Category Archives: kata hati

iNsOMniA (cerpen)

Hwaaaaa tak bisa kupejamkan mata ini. Terasa lama menunggu pagi. Huh sebel. Kenapa aku yang harus menanggung semua ini. Bapakku psikopat. Tapi aku yang malah menderita. Sejak bulikku membisikkan sesuatu di telinga bahwa bapakku sebenarnya psikopat. Aku yang tak tahu menahu masa lalu kedua orang tuaku menjadi berfikir. Lama-lama takut juga. Bukan takut kalo bapakku akan membunuhku. Tapi mamak, pikiranku melayang pada mamak. Bulikku bilang suatu hari bapak dan mamak bertengkar hebat, mengancam akan membunuh mamak. Untunglah tak jadi. Bapak membujuk mamak ikut ke puncak naik motor, nanti di puncak bapak akan ngebut dan bunuh diri. Jadi mereka akan mati berdua. Bapakku memang posesif, sifat posesifnya mejadi liar kalau sudah tersulut api cemburu. Padahal mamak tak pernah selingkuh, tapi bapak selalu yakin bahwa mamak selingkuh dan akan meninggalkannya. Padahal mamak akan meninggalkan bapak buakn karena itu, justru karena bapak terlalu menekan mamak dengan sifat posesif bapak. Kadang aku tak tega sama mamak, berkali-kali mamak bilang Baca lebih lanjut

Iklan

lepas dari belenggu

Baca lebih lanjut

irisan

Baca lebih lanjut

gentong

Baca lebih lanjut

Hanya sebuah cerita di malam hari

Baca lebih lanjut

The beginning of the journey

Baca lebih lanjut

aku jatuh…

Baca lebih lanjut

mengejar bayangan

Baca lebih lanjut

Hujan itu

Baca lebih lanjut

Hanya ingin berpuisi

Laki-laki itu tak setia Baca lebih lanjut

Suatu hari di McD

Hari itu terasa terik matahari menyengat kulit, udara terasa panas dan kering, cuaca hari itu memang sedang tidak bersahabat. Keringat bercucuran dari balik jilbabku. Setelah berjalan melewati pertokoan, kulangkahkan kaki menuju sebuah tempat nongkrong,,kubayangkan di sana hanya membeli minuman gocengan, lalu menghabiskannya selama sejam sambil melihat dan memperhatikan tingkah laku orang-orang. Menerka-nerka isi kepala orang, melatih ketajaman rasa. Saat-saat seperti ini enak digunakan untuk menulis dalam kepala. Mengendapkannya di dalam pikiran selama berminggu-minggu sampai ada keinginan tuk menulis cerpen ato puisi. Baca lebih lanjut

Diam

saat ini aku terdiam seribu bahasa

dengan berjuta pikiran bersautan

saat ini

aku hanya ingin diam

diam

hanya diam

membiarkan keadaan memahami perasaanku

lelah dengan suara-suara yang menyibukkan

inilah saat yang tepat untuk diam

menikmati lambatnya waktu berjalan

saat-saat paling intim dari diriku

untuk berusaha mendekati-Mu

dengan diam

dan membiarkan semua terjadi di luar sana

tanpa kontrolku

Noda Ungu (bag. 3)

Rei meluncur tenang dengan Honda Jazznya. Jalanan Bandung sepi dari lalu lalang mobil pribadi. Di dalam terdengar Mozart Clarinet Concerto in A-II. Sambil memikirkan kira-kira kalimat pembuka yang ingin disampaikan ke Astuti. Rei mampir ke rumah bunga, mencari pemanis kado sesuai pesanan papa. Rei mengambil satu tangkai bunga tulip putih.

Sisa hujan meninggalkan danau kecil di pelataran Coklut Book Café. Rei baru tahu kalau sepinya lalu lintas ternyata tersedot ke sini. Apa sih yang membuat orang-orang rame-rame ke sini?padahal enakan tidur di rumah. Parkiran kafe padat dengan mobil pibadi. Rei mengambil tempat parkir dekat trotoar. Memasuki Coklut Book Café terasa suasana hangat menyambut. Sepertinya tempat ini dikelola dengan baik oleh si pemilik. Kehangatan pribadi si pemilik tercermin dari kehangatan suasana dan keramahan pelayan. Seorang wanita anggun menyapa setiap tamu yang datang di sebelah pintu masuk. Hampir semua space telah terisi. Rupanya hujan membuat orang-orang di sini enggan keluar. Hanya ada satu tempat yang kosong, dipojok ruangan, tempat yang paling enak untuk mengerjakan sesuatu karena tidak terganggu orang lalu lalang. Di meja tertulis

Exclusive corner

Tempat telah dipesan

Rei terpaksa mengambil tempat itu sementara. Lagipula Rei hanya sebentar, nanti kalau orang yang memesan dating, Rei akan pindah ke tempat lain. Rei melihat sekeliling, menikmati suasana café yang tenang, aura yang dipancarkan begitu lembut. Rei kini mengerti kenapa papah sangat betah menulis di sini berjam-jam. Rei celingukan. Seorang wanita memperhatikan Rei sejak kedatangannya beberapa menit lalu. sepertinya wanita yang tadi di depan pintu. Jangan-jangan itu yang namanya Astuti, tapi aku masih ingin santai dulu. menikmati suasana café yang hangat dan nyaman.

“ Selamat malam dik?” sapa wanita bergaun hitam yang dari tadi memperhatikan

“ Oh, selamat malam. Maaf saya menempati meja ini. Cuma sebentar kok. Saya sedang menunggu seeorang.”

“ Maaf adik ini siapa?”

“ Saya Reina Dinata, putri pengarang novel Sang Maestro, beliau sering dikenal sebagai Bens Dinata” Rei mengulurkan tangan

“ Saya Astuti Tunjungsari” Astuti menyambut tangan Rei dengan senyum hangat

Muka Rei pucat. Rasanya Rei pernah bertemu orang ini. Dimana? Rei ingat peristiwa dalam mimpi. Rei mengalami de javu, kejadian yang terulang

“ Ada apa Rei?muka Rei pucat?”

“ Oh, enggak papa kok tante, mungkin karena Rei kedinginan.”

“ Sudah beberapa hari Bens Dinata tidak kesini, ini tempat favoritnya. Saya selalu mengosongkan tempat ini. Bens datang setiap saat. Jamnya tidak tentu. Kadang pagi-pagi sekali beliau dating atau sekedar makan siang di sini. Saya sering membiarkannya asik sendirian berjam-jam bersama notebook. Bagaiman kabar Bens?”

Rei menceritakan kondisi papa yang harus menjalani istirahat di rumah. Papa harus mengurangi aktivitas di luar, sementara kegiatan menulis dilakukan dirumah.

“ Ini ada titipan buat tante Astuti. Saya mohon diri, saya harap tante mau menerima, saya permisi dulu. Selamat malam.”

“ Terima kasih sudah merepotkan Rei. Selamat malam. Hati-hati di jalan Rei” Astuti mengantar Rei sampai keluar. Sejenak Astuti terpaku sampai Rei berlalu.

Di Exclusive Corner, Astuti mencium wangi lembut setangkai tulip yang letakkan di atas bingkisan merah. Di dalam kotak terdapat sebuah novel karya Bens Dinata yang belum jadi. Sampul depan tertulis serangkaian kata tepat di bawah judul :

Sebagian diriku ada yang hilang ribuan tahun lalu

Kini telah kutemukan

Kepingannya masih seperti dulu

Kutemukan diantara tumpukan dunia yang mulai lusuh

Aku mencari dimana dahagaku akan berakhir

Tak jua kutemui oase atas lelahnya perjalanan

Kejenuhan ini telah menyesakkan dada

Menghabiskan stok air mata manusia rapuh seperti diriku

Sebuah gambar puzzle menunggu satu keping untuk menjadi sempurna

Akankah puzze itu sempurna?

Bens Dinata selalu punya cara untuk meraih hati Astuti. Sekalipun akan menjadi manusia bodoh.

“ Puzzle itu akan sempurna Bens” Astuti melelehkan air mata pertama untuk Bens, wangi tulip putih menjadi antiklimaks tiga dekadenya.

cerpen ini saya buat awal bulan Juni 2006, saat gak ada kerjaan, mulai pengerjaan sabtu pagi jam 10.00, selesai minggu tengah malam. Selama 2 hari itu saya tuliskan langsung apa yang ada daka pikiran, istirahat hanya sholat, makan, dan ke WC. hehe. Telah mengalami proses editan beberapa kali pleh saya sendiri, secara dulu pernah jadi editor majalah, So..saya coba manfaatkan potensi itu. Mengenai ending, maaf jika tidak sesuai dengan harapan pembaca. seperti itulah kehidupan. ada banyak hal yang kita inginkan tidak bisa terwujud,,,WAssalam

Noda Ungu (bag.2)

Rei bertanya-tanya dalam hati, kantuknya menghilang seketika. Perlahan Rei membuka jendela kamar. Udara pagi menyerbu masuk tanpa permisi. Rei menyalakan komputer, mengklik list winamp lalu connect ke dunia maya. Rei meeriksa kotak suratnya di Yahoo.

Ada berita apa ya selama aku ke Aceh. Sibuk gak karuan, sampai buka email aja gak ada waktu. Lagipula gak enaklah, di sana aku harus membantu orang yang susah, bukannya piknik atau jalan-jalan ambil gambar foto.

Uh….Rei melepaskan nafas panjang.

Ada 4 email dari sesama volunteer dan 4 email tak dikenal dengan nama Long_Kiss, sisanya email sampah. Satu persatu email dibuka, rasa penasaran memenuhi benak Rei. Anehnya si pengirim menulis subjectnya : buat si petualang sejati, Rei makin penasaran, setahu Rei tidak ada yang tahu Rei menjadi relawan, teman-teman kampus pun tidak, selama ini Rei dikenal sebagai redaktur majalah kampus. Siapa ya?

Long_Kiss #1 klik

Buat petualang sejati, Reina Dinata

Maaf papa mengatakan ini lewat email, papa tak kuasa memendam cerita ini sendiri. Papa harap Rei mau mengerti dan menyimpan rahasia ini baik-baik. Mungkin sekarang Rei sedang sibuk melaksanakan tugas sebagai relawan, hingga tak banyak waktu buat papa. Papa maklum. Papa tidak marah. Papa bangga Rei punya niat yang tulus dan visi yang bagus. Tidak semua orang mau bekerja tanpa dibayar atau dibayar dengan sedikit uang. Teruslah berkarya anakku. Pasti ada hadiah dari Allah untuk tangan-tangan ikhlas. Mungkin sekarang Rei belum merasakan. Kehidupan Rei masih panjang. Mungkin nanti akan ada keajaiban d isaat Rei terjebak dalam masalah, saat itulah Rei akan merasakan keajaiban tangan Allah mengangkat Rei dari kubangan masalah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Hidup ini misteri. Jangan takut menerjang badai Rei, karena banyak orang yang mendoakan Rei. Mungkin Rei bertanya darimana papa memperoleh email Rei. Papa menemukan kartu nama Rei di kamar, disana ada alamat email Rei.

Tumben papa ngirim Rei email, biasanya langsung ngobrol lama di telepon. Hati Rei berdebar, seperti mau pergi jauh, ngasih wejangan buat anak gadisnya. Tunggu. Ini dia email kedua. Pasti lanjutannya..

Long_Kiss #2 klik

Rei, papa akan mulai bercerita. Rei jangan kaget, papa minta sebelumnya Rei harus merubah cara pandang Rei. Papa minta Rei jangan menanggapi ini dengan emosi sesaat. Pahamilah ini dengan sudut pandang papa, untuk beberapa saat Rei meminjam sudut pandang papa dulu. Baru Rei memutuskan akan bereaksi seperti apa. Terima kasih Rei mau menuruti keinginan papa. Maaf papa banyak meminta.

Rei, belasan tahun lalu terjadi sebuah peristiwa yang selalu papa ingat sampai sekarang. Kamulah orang pertama yang tahu. Mama tentu tidak tahu, sebab papa tahu apa reaksi mama jika mengetahui ini. Papa piker, papa dapat melupakan kejadian itu seiring dengan waktu. Pada awalnya pap dapat mengatasi masalah ini dengan tenggelam dalam kesibukan. Namun, dalam kesendiran bayangan itu selalu hadir memenuhi pikiran, dada papa terasa sesak, terkadang papah menangis sendiri.

Awal kuliah Papa mengenal seorang gadis, namanya Astuti, dia teman om Rizal sahabat papa sewaktu kuliah. Astuti bukan gadis cantik, yang jelas dia tidak sama dengan gadis-gadis lain yang papa kenal. Dia memang tidak memoles wajahnya dengan kosmetik, tapi siapapun yang pernah mengenalnya, pasti setuju kalau Astuti berkepribadian hangat, rendah hati, empatinya luar biasa, dia tidak bisa melihat orang lain menderita. Astuti bukan orang kaya, tapi selalu menolong teman yang kesusahan, siapapun orang itu. Pernah Astuti memberikan seluruh uang tabungan untuk menolong teman yang keluarganya tidak bisa makan. Padahal Astuti sendiri selama sebulan hanya makan nasi putih tanpa lauk. Saat itulah papah mulai tertarik. Papa heran, kok ada manusia seperti ini. Lalu papa mulai sering main ke rumahnya, telepon atau sekedar memberi perhatian kecil. Lama kelamaan ada sesuatu diantara kami. Kita berdua menyadari apa yang terjadi. Kami semakin dekat tanpa ada ikatan. Kami sering bercerita masa-masa SMA, berita politik, kehidupan kampus, bahkan sampai masalah pribadi. Kita jadi sering bersama dalam setiap waktu. Astuti sangat peduli dengan papa, Astuti orang yang paling sabar menghadapi papa, merawat papa dengan kasih sayang jika penyakit papa kambuh. Papa sangat menyayanginya. Meskipun begitu Astuti tidak pernah meminta status dari papa terhadap hubungan yang kami jalani.

Dada Rei semakin berdebar. Jadi papa sering mengirim email buat Rei? Papa enggak pernah cerita. Rei menyalahkan diri sendiri kenapa gak pernah ngecek email. Rei berkali menyalahkan diri. Bukan salah Rei kalau tak ada waktu buat buka email, banyaknya pekerjaan membuat Rei kalang kabut dan kehabisan waktu untuk keluarga. Rei kembali ke inbox dengan double klik

Long_Kiss #3, klik

Waktu kakek pulang dari Jerman, kakek ingin papa menikah segera dengan seorang gadis keturunan bangsawan teman seperjuangan kakek. Gadis itu adalah mama. Papa tak kuasa menolak perjodohan. Resikonya berat jika papa tidak menikah dengan gadis yang derajatnya sama, istri papa tidak akan diakui sebagai anggota keluarga besar Pringgodihardjo. Papa terpaksa menerima tawaran kakek karena papa belum bekerja, calon mertua papa telah menyediakan pekerjaan dengan gaji tinggi. Seharusnya papa bisa menolak perjodohan itu. Sejak dulu papa diajarkan patuh terhadap orang tua. Adat jawa melarang papa untuk menolak kenginan orang tua. Menurut mereka apa yang dilakukan orang tua buat kita adalah yang terbaik. Papa baru menyadari sekarang, selama ini papa hidup sebagai pecundang bukan petarung seperti yang Rei lihat ketika papa memimpin persusahaan. Papa merasa bersalah karena meninggalkan Astuti begitu saja. Waktu papa ke rumahnya untuk meminta maaf dan menceritakan kondisi yang sebenarnya, Astuti hanya diam dan sesekali tersenyum. Papa tidak mengerti ekspresi wajah dan senyumnya. Ekspresi yang selalu membayang di pikiran papa. Hari itu hari terakhir papa melihat Astuti, setelah itu papa tidak tahu dimana Astuti berada. Om Rizal juga tidak tahu kabarnya. Papa tahu Astuti terluka, tapi dia menyembunyikannya dalam senyum, lalu tiba-tiba menghilang untuk merajut hati yang terkoyak. Sampai papa menikah, hubungan itu tidak pernah berawal dan berakhir. Beberapa bulan lalu Papa membaca iklan di internet tempat nongkrong para penggemar buku, namanya Coklut Book Café, pemiliknya bernama Astuti. Meskipun telah 30 tahun berpisah, papa tetap mengenali wajah khasnya, senyumnya di foto yang dipajang samping artikel. Lalu papa menghubung Astuti, kita sering bertemu di cafenya. Bernostalgia dengan getar-getar yang dulu papa rasakan. Kebetulan koleksi buku dan minumannya lengkap. Papa sering menghabiskan waktu disana berjam-jam untuk menyelesaikan tulisan tanpa ada yang mengganggu. Astuti menyediakan corner khusus buat papa. Dan membiarkan papa berakrab ria dengan notebook. Hubungan kami kembali muncul ke permukaan. Efeknya papa jadi jarang sakit, karena ada yang memperhatikan papa. Belakangan papa tahu kalau Astuti janda, papa ingin kembali menjalin kisah dengan Astuti sekaligus menebus kesalahan papa. 28 tahun cukup buat papa membuat keluarga besar mama bangga. Mama sama sekali tidak peduli dengan papa. Papa lelah dengan ini semua. 28 tahun Rei, hidup papa buat mama, tanpa penghargaan, tanpa komunikasi yang enak, papa selalu harus mau menuruti keinginan mama. Kadang mama tidak mau mengerti kalau papa sedang tidak bisa memenuhinya. Mama selalu marah jika keinginannya tidak dipenuhi, sebulan lalu mama tidak mau menemani papa check up karena cemburu sama perawat dokter Johan. Akhirnya dokter Johan yang datang ke rumah. Papa jadi malu sama dokter Johan, untung beliau memahami. Sudah tua begini belum sembuh juga penyakit mama. Papa tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kondisi ini, Astuti jadi oase di siang hari dan embun pagi papa. Astuti tidak mengetahui kondisi rumah tangga papa. Dia hanya tahu semua baik-baik saja seperti yang orang lihat.

Rei makin penasaran, debaran di hati Rei tak kunjung reda. Ternyata memang benar kata orang, air yang tenang menyimpan gejolak. Rei tak pernah lihat ada yang salah dengan perkawinan mama-papa. Rasa kagum Rei terhadap papa kian bertambah. Seperti apa rasanya 28 tahun tanpa penghargaan diri, Rei seperti bisa merasakan gejolak di hati papa. Perasaan benci mulai merayapi hati Rei ke mama. Oh God…

Long_kiss #4, klik

Rei, papa telah memikirkan ini baik-baik. Keputusan ini papa ambil karena kamu sudah dewasa, papa ingin meminta pendapatmu. Enam bulan terakhir papa sering bangun malam memikirkan kondisi yang papa alami. Akibatnya, pagi hari papa baru bisa tidur. Hal ini membuat mama uring-uringan. Membuat kepala papa ingin pecah. Mama enggak mau mengerti, mama hanya menyalahkan, menuntut ini itu. Waktu papa bercerita sering terbangun malam dan terjaga sampai pagi, mamh menuduh papa chatting untuk cari pacar baru. Padahal papa email ke Rei, karena tidak bisa tidur lagi, papa browsing lihat perkembangan dunia atau ngecek kondisi perusahaan.

Rei, papa ingin berpisah dengan mama. Rei masih anak papa, walau bagaimanapun hubungan Rei sama paph akan selamanya. Papah tetap yang akan menjadi wali nikah Rei. Rei boleh berpetualang kemanapun Rei suka. Jadilah petualang yang tangguh. Papa jenuh. Papa ingin, kehidupan papa kembali normal, Astuti lah yang bisa memenuhi kebutuhan papa, seperti nenek yang bisa mengerti papa. Papa ingin istirahat dari segala macam kejenuhan yang menghimpit. Papa tidak bisa lagi berhubungan dengan mama. Mungkin ini noda buat perkawinan papa dan mama. Noda ungu, noda yang papa inginkan. Noda yang seharusnya tidak ada, tapi noda itu sangat indah buat papa. Papa tidak ingin seumur hidup menyesal karena mengambil keputusan yang salah. Papa ingin menghabiskan sisa umur papa dengan orang yang mau mengerti, mencintai dan merawat papa, dan sebaliknya. Maafkan papa Rei, ini yang terbaik menurut papa. Mungkin Rei akan membenci perbuatan papa. Lakukanlah Rei. Tapi plis jangan benci papa, Rei adalah bahan bakar agar semangat hidup papa tetap menyala. Jika kebencian telah tertanam di hati Rei, papa jadi sedih.

Terima kasih Rei mau mendengar isi hati papa

Salam sayang buat petualang sejati

Papa Rei

Membaca email terakhir, serasa Rei mau pingsan. Untung di kamar, bukan di warnet. Rei bisa pingsan sesuka hati di kamar. Rei tidak selemah itu. Rei menganggap masalah tersebut biasa yang terjadi dalam rumah tangga. Rei pikir kejadian ini cuma di sinetron pengisi waktu luang ibu-ibu rumah tangga. Ini bukan masalah berat jika kita mau mengembalikan semua pada Allah, Sang pemilik jagat raya.

Rei bangkit dari duduk, menatap keluar, gunung Gede masih disana, diam, tenang, megah, seolah tak terjadi apapun. Jika Allah menghendaki, gunung itu dapat meletus. Begitu pula yang terjadi dengan papa sekarang. Rei menggeliat, meregangkan seluruh otot badan. Lalu menuju kamar mandi mengambil air wudhu, ritual dhuha tak berniat ditinggalkan. Rei seperti punya hutang yang belum dibayar. Dalam damainya Dhuha, Rei memohon petunjuk

Ya Allah, berilah papa petunjuk. Kuatkanlah beliau untuk bertahan, Rei tahu cerai adalah perbuatan halal yang tidak engkau sukai. Papa hanya manusia biasa sepertiku. Yang punya keterbatasan. Jika saatnya nanti papa harus melepas semua yang beliau miliki sekarang, maka lepaskanlah dengan ringan, janganlah engkau beri beban yang tidak sanggup beliau pikul. Ya Allah buatlah paph kembali ke jalanMu, gerakkanlah hatinya untuk selalu mengingatMu setap saat. Papa masih sering meninggalkan sholat, padahal hanya engkau tempat yang kuat untuk berpijak.

Ya Allah di waktu Dhuha ini mudahkanlah segala urusan papa, mudahkanlah apa yang menurut beliau sulit. Dan janganlah Engkau menggerakkan hatiku yang lemah ini untuk memelihara dan tenggelam dalam perasaan benci.

Amin

Mukena Rei basah oleh air mata. Rei tahu hanya Allah yang dapat menolong Rei keluar dari kesulitan ini. Segera Rei melepas mukena dan mandi. Rei ingin sarapan bersama papa-mama.

######################

Sejak shubuh mama sudah bangun menyiapkan segala kebutuhan papa, mulai menemani jalan pagi, mencuci piring, mencuci baju sampai membuat sarapan.

“ Pah, mama sudah siapkan obat di meja makan, jangan lupa diminum. Ingat jangan terlalu banyak makan jeroan. Pagi ini mama mau ke acara launching baju pengantin dari serat alami. Bayak perancang terkenal yang datang. Lumayan kan buat nambah ilmu mama. Supaya BoUTIQuE enggak ketinggalan jaman.” kata mama panjang lebar sembari memoles eye shadow.

“ Ya terserah mama sajalah. Apa yang menurut mama baik ya lakukan. Tapi kali ini papa tidak bisa menemani” sahut papa sambil membaca koran

“ Kok papa gitu sih. Kayaknya enggak mendukung mama deh, kalau papa enggak bisa ngomong enak mending diam aja, daripada ganggu mood mama. Enggak papa kok mama pergi sendiri, lagian kalau papa ikut paling-paling jelalatan lihatin daun muda. Iya kan? emang mama enggak tahu. Ya udah deh ngomong sama papa enggak ada habisnya. Mama pergi dulu”

“ Hati-hati ya Ma”

Rei mendengar pembicaraan mama-papa, baru sekali ini Re mendengar dengan telinga Rei sendiri. Rei hampir tak percaya. Mama yang selama ini Rei kenal, telah berubah. Mama yang lembut dan penuh sayang, mama yang mengerti kebutuhan keluarga. Rei bisa merasakan letupan emosi di hati papah. Rei juga merasakan kepedihan. Betapa yang papa butuhkan adalah rasa damai.

Setelah mama pergi, Rei mengetuk pintu kamar papa

“ Permisi Pa, apa Rei boleh masuk?” ujar Rei lembut

“Come on girl, this is free area. Ada apa sih kok kamu serius sekali, pasti kamu mau curhat ya? kita ngobrol disamping yuk, sambil kamu sarapan. Kamu belum sarapan kan?” papa sok menutupi gejolak dihatinya

Rei mengambil sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Rei memenuhi ajakan papa. Sarapan sambil ngobrol-ngobrol ditemani pemandangan menyejukkan mata. Sambil makan Rei mendengarkan papa bercerita tentang proses penulisan novel terbarunya. Rei tekun menyimak cerita papa. Rei menyelesaikan sarapan pagi tepat kata terakhir keluar dari mulut papa.

“ Nah sekarang giliran Rei mau nanya sesuatu sama papa.”

“ Oke.”

“ Pa, jadi papa sudah membuat keputusan?papa yakin?” pertanyaan Rei merubah raut wajah papa.

“ Rei baru membaca email papa. Maaf ya Pa, baru sempat. Abis di base camp banyak kerjaan. Kalau itu keputusan papa dan itu yang terbaik, Rei mendukung papa. Tadi Rei tidak sengaja mendengar pembicaraan mama-papa. Terus terang Rei tidak percaya membaca email papa, kejadian barusan membuat Rei tak dapat menolak kenyataan yang terjadi. Papa tidak usah memikirkan perasaan Rei. Rei baik-baik saja dan Rei bisa mengatasi keadaan yang ada. Kalau Rei boleh memberi saran apa papa tidak sebaiknya melanjutkan sandiwara 28 tahun itu? Dan membiarkan mama seolah tetap menjadi ratu di hati papa. Rei akan menympan ini semua. Rei tidak membenci papa atau mama. Walau bagaimanapun mama-papa adalah orang tua Rei, yang akan menikahkan Rei dengan orang yang mencintai Rei kelak.” ucap Rei

“ Terima kasih Rei, papa menghargai pendapatmu. Kamu akan merasakan posisi papa jika kamu telah menikah nanti. Papa berharap tidak terjadi pada rumah tangga Rei.” Papa terdiam sejenak, sepertinya papa ingin mengatakan sesuatu

“ Rei, papa minta tolong antarkan ini ke Coklut Book Café, berikan pada Astuti, jangan katakan dari papa. Makasih ya Rei” mata papa berkaca.

to be continue

Noda ungu (bag.1)

Di sela kesibukan saya yang lumayan padat, ada waktu-waktu tertentu yang membuat saya harus menulis cerpen. Penulisannya pun gak bisa berhenti, sekali waktu langsung jadi. Saat stress berat justru saat paling asik menulis cerita. Entah kenapa ini bisa jadi obat pengusir stress. Saya pakai nama pena SHAKTI NAURA, biar keren dikit, hehe.. Ini salah satu cerpen saya yang selamat dari virus komputer. Selamat membaca, semoga pembaca dapat mengambil manfaat dan hikmah di dalamnya.

NODA UNGU

By Shakti Naura

Sejenak Rei memandang keluar jendela pesawat yang sebentar lagi mendarat di bandara Ali Sadikin. Hamparan awan memenuhi mata elangnya yang sipit dan tajam. Rei tersenyum damai. Rei ingat waktu kecil dulu ingin tidur di atas awan, ingin tahu seperti apa rasanya awan. Mungkin seperti kapas wajah milim mama. Rei ingin suatu saat terbang di atas awan, kini Rei ingat impiannya dulu menjadi kenyataan, terbang menggunakan pesawat (tentu saja), bukan sayap seperti malaikat kecil dalam dongeng. 20 menit lagi Rei menginjakkan kaki di bumi Parahyangan tercinta, setelah 1 tahun tak pulang ke rumah. Ini semua demi cita-cita Rei bergabung dengan LSM asing untuk Aceh Development. Rei sengaja tidak memberitahu papa-mama atas kepulangannya. Lagipula papa harus banyak istirahat dirumah karena penyakit lamanya kambuh lagi, kebanyakan begadang. Kalau tahu Rei pulang, papa pasti memaksa untuk menjemput Rei di bandara. Mama juga sibuk di BoUTIQuE. Kadang Rei merasa bangga dengan kedua orang tuanya. Pada satu titik tertentu mereka bukan orang yang suka mengejar uang. Maka papa-mama langsung memberi lampu hijau waktu Rei mengutarakan niat ingin menjadi sukarelawan di Aceh. 3 tahun lalu papa rela melepas jabatan Presdir perusahaan retail yang sekarang di limpahkan ke om Dedi, adik papa yang baru pulang dari New York. Papa ingin menikmati hidup sebagai manusia biasa. Kembali menjalani hari-hari tanpa stres di kantor. Tak ada lagi meeting panjang yang melelahkan pikiran. Juga deadline-deadline yang membuat manusia tak ingat waktu. Papa memutuskan menulis buku dan novel melanjutkan cita-cita semasa SMA. Sedangkan Mama memutuskan keluar dari perusahaan asing yang telah membesarkannya selama 20 tahun. Mama mendirikan BoUTIQuE dengan uang hasil tabungan selama bekerja. Mama sangat menikmati pekerjaannya, sampai-sampai tak memperhatikan papa. Akibatnya papa sering sakit untuk memperoleh perhatian dan kaih sayang dari mama.

“ Kepada penumpang Flower Arlines, pesawat sebentar lagi mendarat, cek kembali barang bawaan anda, jangan sampai ada yang tertinggal. Terima kasih atas kepercayaan anda menggunakan jasa kami.”

Begitu pesawat mendarat, Rei mampir sebentar ke Shop Corner membeli oleh-oleh untuk papa dan mama. Papa suka memesan pulpen buat siapapun yang pulang dari perjalanan jauh dan mama suka sekali dengan bros.

Setelah mendapat barang yang dicari, Rei segera membayar di kasir. Rei ingin cepat sampai rumah. Tak sepert biasanya Rei selalu menyempatkan diri menyeruput cappucino hangat di Coffee Beans. Rei ingin sekali memeluk papa-mama. Rei kangen. Selama menjadi volunteer Rei kehilangan kehangatan keluarga. Taksi mengantarkan Rei tepat di depan rumah.

Rei mampir ke BoUTIQuE yang terletak persis di seberangnya. Di sana mama sering menghabiskan waktu. Rei ingin mengejutkan mama. Tampak mama sibuk memasang scraft di manekin.

“ Pesanan scraf saya sudah ada Bu?” Rei menggoda mama

“ Rei…” mamah langsung memeluk Rei

“ Bagaimana kabarmu sayang? Kamu baik saja kan?mamah khawatir. Kenapa tidak kasih tahu mama dulu kalau mau pulang. Kan mama sama papa bisa jemput kamu.”

“ Rei mau kasih kejutan. Tara…ini oleh-oleh buat mama. Sori Ma, Rei enggak sempet jalan-jalan waktu di Aceh, tadi Rei mampir di Corner Shop bandara. Mama pasti suka deh.”

“ Enggak apa-apa sayang. Kamu malah repot-repot beli oleh-oleh buat mama. Kamu pulang dalam keadaan sehat mama sudah senang, yang penting adalah kesehatan kamu. By the way, kebetulan mama baru aja membuat setelan pesta yang cocok dengan bros ni. Makasih ya sayang” mama mencium pipi Rei dan memeluk erat.

“ Ma, Rei kangen mama. Di sana Rei enggak bisa makan karedok buatan mama. Rei juga kangen papa. Gimana kondisi papa?” Rei mendadak teringat papa

“ Yuk kita ke rumah. Mama sampai lupa”

Mereka berdua menyeberang jalan menuju rumah utama. Kemudian langsung ke ruang keluarga yang menyatu dengan pemandangan dari luar. Biasanya papa suka menghabiskan waktu di sana, viewnya terlihat kontras sekali. Dari beranda terlihat hamparan sawah dan pepohonan hijau dengan latar belakang gunung Gede. Membuat siapapun malas beranjak. Papa rela menghabiskan waktu berjam-jam ditemani laptop kesayangannya.

“ Pa, coba lihat siapa yang datang” mamah mengagetkan papa yang sedang membuat bagian akir novelnya

“ Iya sebentar. Suruh tunggu dulu di ruang tamu, sebentar lagi papa selesai, tanggung nih” papa menyahut tanpa melihat ada Rei di belakang

“ Silakan sang maestro melanjutkan tugas, saya tidak akan mengganggu, saya akan menunggu sampai maestro selesai”

papa mengenal betul suara seseorang yang dibelakangnya

“ Rei…” papa memeluk erat

Rei memeluk papa erat, sama eratnya dengan pelukan papa. Ada energi hangat menyembul diantara keduanya. Sesuatu yang selalu dirasakan Rei setiap kali papa memeluk Rei, seolah Rei tak ingin papa dimiliki yang lain, selain Rei dan mamah. Meski Rei tahu diluar sana seorang wanita telah memberi kehangatan seperti ini pada papa. Sesuatu yang tak pernah papa peroleh dari mama. Rei ingin wanita itu pergi dari kehidupan papa, tapi Re tak bisa menghalangi apa yang papa butuhkan buat hidupnya. Perasaan Rei kembali ungu.

“ Pa kabar maestro?”

“ Pa kabar juga petualang ?”

mereka berdua tertawa bersama, tawa renyah yang Rei selalu rindu kala jauh dari rumah. Mama ikut merasakan kehangatan itu. Tawa mereka berderai. Cerita mengalir seru dari mulut Rei selama di Aceh. Papa dan mama bertukar cerita tentang aktivitas akhir-akhir ini. Malam menyapa pelan, ketika rangkaian cerita ketiganya hampir selesai. Mama menyilakan Rei membersihkan diri dan istirahat. Rei mencium pipi papa-mama, lalu minta ijin istirahat.

####################

Rei meletakkan 2 ransel besar di kamar, rasa penat mulai menyergap. Rei menikmati segarnya air shower hangat. Selama menjadi volunteer, kebiasaan mandinya yang lama tak pernah dilakukan lagi. Air shower menelusuri tubuh Rei yang lelah dan penuh sisa keringat. Rei membaluri tubuh dengan scrub, membilas, dan terakhir berendam di bath up yang telah diberi minyak aromaterapi. 45 menit Rei sudah siap dengan baju tidur, tak lupa Rei mengoleskan krim malam untuk wajah. Doa pengantar tidur mengiring Rei sampai pulas.

Pukul 3.30 pagi Rei terbangun oleh jam biologisnya. Rei mengambil air wudhu, sholat tahajud, tadarus sambil menunggu shubuh. Setelah sholat shubuh Rei tidak kembali tidur. Rei mengingat mimpi semalam. Rei bertemu dengan seorang wanita, usianya tidak jauh dari usia papa. Pertemuan tak sengaja di bandara dalam perjalanan Aceh-Bandung. Wanita itu tidak sengaja menabrak Rei yang sedang keluar dari Corner shop dan meminta maaf atas kelalaiannya, ia ingin mentraktir Rei minum kopi buat menebus kesalahan. Karena tergesa-gesa, maka ia hanya memberikan kartu nama. Rei terpaksa menerimanya

Astuti Tunjungsari

Coklut Book Café

Meet me at : Tulip raya 96 Bandung

Hidup akan berarti bila hari ini kita memberi arti

Mengapa ada seorang Astuti tiba-tiba masuk dalam mimpiku? siapa dia?, apakah aku mengenalnya? Rasanya tidak. Apa hubungannya denganku?

to be continue

dunia tanpa syair

saya, perempuan usia 27 tahun. Pendidikan saya hanya sampai SMA, itu pun sudah alhamdulillah. Lulus SMA, saya bekerja di pabrik roti. Mengangkat loyang-loyang besar sudah menjadi keseharian saya. Saya terpaksa berhenti bekerja dikarenakan pabrik harus melakukan perampingan karyawan. itu terjadi 4 tahun lalu. Selama beberapa bulan terakhir, saya mengajar disebuah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang berada di lingkungan kampung. Sebenarnya gaji yang saya terima belum bisa membahagiakan orang tua. Terkadang kami semua makan tanpa lauk. Ini karena saya yang tak bisa diandalkan. Seharusnya ini menjadi kewajiban saya. Ya Allah, tolonglah hamba-Mu yang lemah ini. Masalah lain pun datang tatkala sampai saat ini belum ada pendamping, mengingat umur sudah menginjak 27 tahun. Suara-suara miring mulai terdengar di telinga, mereka menyalahkan saya karena terlalu memilih laki-laki. Mereka mungkin lupa bahwa jodoh ada di tangan Allah. Mereka hanya sibuk menyalahkan. Berikan mereka petunjuk ya Allah. Mereka juga lupa bahwa saya butuh dukungan. Untung saya memiliki teman-teman yang bisa diandalkan di saat sulit. Di keheningan malam saya tersedu dalam sujud dan dzikir, kesalahan apa yang telah saya lakukan sampai Allah memberi cobaan yang begitu berat. Ya Allah ampuni dosa-dosa hamba, mungkin selama ini hamba sedikit memberi sesuatu untuk orang lain.

Yang terpenting saat ini adalah fokus bagaimana supaya anak-anak senang belajar mengaji. Untuk menambah penghasilan, beberapa pekerjaan lain saya lakukan seperti membuat souvenir dan berjualan pakaian. Kalau saya ada rezeki lebih, ingin sekali melanjutkan pendidikan guru untuk anak-anak TK. Soal jodoh serahkan saja sama Allah. Allah Maha Mengetahui yang terbaik buat hamba-hambaNya. Semoga Allah berkenan mengirimkan laki-laki hanif yang pas di hati. Yang akan menerima saya apa adanya. Saling menjaga komitmen dan janji setia. Mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Merangkul dua keluarga besar menjadi sebuah keluarga yang memelihara silaturahmi dan kasih sayang. Saling membantu dan peduli. Semoga saja. Semoga terwujud. Amien

hidup ini seperti dunia tanpa syair, setiap lagu mengalun apa adanya, lagu sedih, lagu senang, lagu gembira, lagu kecewa, lagu bahagia. It’s life

diilhami dari diskusi mingguan, sesama jomblo yang sedang mencari pendamping hidup :

sati

sati…

malam ini aku bingung sendiri

resah

bertumpuk pertanyaan di kepala yang tak bisa kujawab

bantu aku sati

mengapa kau masih saja diam membisu

mengapa kau biarkan aku mendaki gunung es mu

sendirian..

satu hal yang tidak pernah buatku berhenti adalah senyumanmu

satu senyuman melegakan ketika menatap wajah damaimu

sati,

harus aku kemanakan rasa yang menggebu ini

hidup mengajarkanku agar tak terlampau mencinta

melebihi cinta kepada Tuhan

Lalu…

sekarang apa yang harus kulakukan?

haruskah aku menunggumu keluar dari gunung es mu

sampai waktu yang tak terbatas

mungkin sampai aku mati

sati,

harus kuletakkan dimana cinta untukmu?

di matamu?

di senyum mu?

atau hanya di dadaku saja?

tapi aku tak sanggup menanggung ini sendirian

sati,

aku sadar sepenuhnya bahwa gunung es itu adalah perbedaan kita

budaya, bahasa, agama

hanya satu yang telah mempertemukan kita

waktu…

waktu telah mempertemukan kita dengan durasi yang sangat cepat

seperti kilat, masih adakah impian untuk bertemu denganku, sati?

cinta

CINTA TIDAK PERNAH MEMAKAI ATURAN

KARENA CINTA TIDAK BISA DIRABA DAN DITEBAK

MESKI KADANG MEMBUAT KITA BERBOHONG DEMI CINTA

TAPI YANG TERPENTING…

CINTA TIDAK PERNAH MEMBOHONGI SIAPA-SIAPA

CINTA BISA DATANG

CINTA BISA MEMILIH

DAN

CINTA BISA JUGA PERGI

SATU HAL YANG TIDAK BISA DILAKUKAN OLEH CINTA

CINTA TIDAK BISA MENUNGGU

YANG PALING BERBAHAYA DARI CINTA ADALAH

SERINGKALI CINTA MEMBUAT KITA

MELAKUKAN HAL-HAL YANG TIDAK KITA BAYANGKAN

MEMILIH ADALAH KEMAMPUAN DIRI PALING BERAT

YANG HARUS DITEMPUH

SETIAP HARI EMBUN MEMBERIKAN KESEJUKAN

DALAM BEBERAPA DETIK

UNTUK MENENANGKAN JIWA

SEPERTI ITULAH CINTA…