sekeping cinta

Tak pernah sebelumnya saya bermimpi jadi seorang guru. Semua ini dimulai dari ketidak sengajaan dan sebagian kecil keisengan belaka. Mulanya saya bingung setelah lulus kuliah mau ngapain. Daripada malu setelah lulus gak dapet kerja. Iseng-iseng nerima tawaran kuliah akta IV di sebuat ptn. Di situlah saya baru mengenal tentang pendidikan. Saya baru tahu ternyata menjadi guru itu pilihan hati dan jiwa. Berbekal ilmu praktis pendidikan dari dosen-dosen terbaik ptn tersebut, setelah lulus saya memberanikan diri melamar pekerjaan di sebuah bimbingan belajar. Ajaibnya saya diterima, padahal sama sekali ga nyangka. Karena kontrak habis, saya memutuskan untuk resign, dan menempuh jalur independen. Siswi pertama saya adalah anak ABK kelas 6 SD, bersekolah di SD negeri, nilainya paling besar 3. Dengan sedikit nekad saya beranikan diri menerima tawaran tersebut. Padahal gak tau tuh gimana ngajarnya, ngajar, apa, bagaimana berinteraksi, dsb. Yang terpikir waktu itu adalah bagaimana membantu anak ini supaya bahagia dan nyaman belajar. Saya tak ingin membuatnya stres, apalagi anak ABK perlu trik khusus, ada hal-hal khusus yang dilakukan sebelum dan sesudah belajar seperti memasak, bercerita, berdiskusi, menulis diary. Disitulah cinta saya mulai muncul. Tak disangka, sejak saat itu saya jadi senang mengajar. Padahal dulu saya terkenal pendiam, malu, tidak percaya diri, bahkan mengeluarkan sedikit kata aja pake gemeteran. hahaha. Banyak hal saya pelajari saat menjadi seorang guru. Pertama-tama saya harus mengenal diri sendiri, kedua apa kebiasaan baik dan buruk. Memilih dan memilah kebiasaan baik yang mungkin nanti ditiru anak-anak. Ketiga, keperpihakan. Saya harus memilih antara uang dan dedikasi. Memilih siap hidup pas-pasan. Memilih anak-anak nilainya bagus tapi gak jujur, atau jujur tapi nilai ancur hehe. Keempat, belajar terus menarus agar tak tertinggal info terbaru. Kelima, melibatkan hati. Saat mengajar, hal yang mutlak diperlukan seorang guru adaah keterlibatan hati. Anak-anak sangat sensitif tentang ini, mereka tau mana guru yang tulus dan mana guru yang pura-pura tulus, yang hanya mengajar demi mencari segenggam berlian. Kalau seperti ini biasnaya anak-anak enggan menerima.
Sekarang saya bisa dengan bangga bilang ke dunia bahwa saya bangga jadi guru les. Apalagi saya hanya guru les, seminggu hanya bertemu 2x. yang mungkin profesi ini dianggap tak berharga pada sebagian orang. Katanya sih tidak bisa digunakan untuk pijakan hidup berumah tangga. Saya ingin memberi pengalaman lain bagi anak-anak, tentang sudut pandang baru mengenai belajar. Saya dulu sekolah di sekolah negeri dari tk sampai kuliah. Prestasi saya biasa saja, tidak ada yang menonjol. Namun saya tak pernah bahagia bersekolah selama 17 tahun. Bagi saya itu hanyalah proses yang ingin cepat-cepat dilalui. Ketika sudah lulus pun bingung menentukan arah. Karena memang di sekolah tidak diajarkan tentang bagaimana menghadapi kehidupan, bagaimana bisa bermanfaat kepada sesama dengan hal-hal kecil. Di sekolah hanya diajarkan tentang teori dan bagaimana lulus UN dengan nilai tinggi. Hal-hal seperti inilah yang memacu saya untuk terus mengambil sedikit peran bagi siswa siswi saya. Saya bermimpi, memiliki tempat les yang bisa dijadikan basecamp. Anak-anak tak hanya belajar menambah pengetahuan, tetapi juga dapat mengembangkan potensi lainnya, berfikir lebih luas, kritis, bisa menempatkan diri, tahu bagaimana harus bersikap, berkemangnya ide-ide untuk memajukan lingkungan sekitar.
Suatu saat ketika saya menikah, saya dikaruniai pasangan yang memiliki visi sama tentang tempat les ini. Dan kami terus bermimpi agar anak2 broken home mendapatkan rumah kedua. Setidaknya mereka tak keliaran di jalanan, café, menghabiskan waktu dengan narkoba, games, internet. Anak-anak remaja yang berteriak minta tolong karena orang tua tak pernah di rumah, kami berharap agar bisa mengisi kekosongan itu. Memberi tempat untuk anak remaja berekspresi. Mereka anak-anak baik yang perlu pengarahan, mereka tak ingin dicap jelek, dituduh sebagai anak tak bermoral atau siswa urakan. Mereka sedang mencari jati diri. Saat ini, kami hanya bisa membuat diskusi-diskusi kecil dengan mereka. Kami masih bermimpi, suatu saat memiliki tempat besar, yang terdiri dari beberapa saung. Satu saung mewakili bengkel-bengkel ilmu : seni, sains, pertanian, bahasa, dapur dan memasak, dll. Saya mencintai anak-anak ini. Bagi saya anak-anak ini sumber keberkahan yang luar biasa. Sesuatu yang bisa membuat saya terus merasa hidup ini layak diperjuangkan. Saya memang ibu rumah tangga, namun saya memiliki impian besar, dapat mengambil sedikit peran bagi pendidikan di negeri ini lewat les privat. Sama seperti mimpi bill gates, tentang personal computer. Kamu punya mimpi? Beranikah kamu bermimpi? yuk kita sama-sama bermimpi dengan langkah kecil ini

“Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS”

lomba blog cinta monumental
tema : cinta

Iklan

2 responses to “sekeping cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s