Hanya sebuah cerita di malam hari

“jadi kamu udah bosen sama aku?”tanyaku

“menurutmu?” tanya Anggi

“menurutku sih, kamu mulai terlihat tidak seperti biasanya, kamu mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang biasa sering kita lakukan. Itu cukup membuat jarak di antara kita. Sebuah pernyataan tak terucap.” aku mulai jujur

“sejujurnya aku tak ingin kehilanganmu, tapi rupanya kamu bukan orang yang mudah memaafkan. Baiklah, jika apa yang kamu lakukan ini sanggup memuaskan amarahmu atas khilafku. Aku akan terima dengan lapang dada. Dan kalau aku layak diperlakukan seperti itu, silakan saja. Aku gak kan membalas.” kataku sambil tersenyum

keadaaan hening..hanya detak jantung yang terdengar. Kudengar hembusan nafasnya naik turun tak lagi teratur seperti biasanya.

“Boleh tau kenapa sikapmu seperti itu?”

“Mmmm…ya kamu berlebihan, pikiranmu terlalu berlebihan, memikirkan yang tidak-tidak, padahal aku tidak berpikiran ke situ. Lama-lama bosen juga kan ngadepin kamu yang kek gitu terus. Ya, akhirnya memang aku menghindar….” suara Anggi terdengar pelan saat mengucap kalimat terakhir

Aku berfikir sambil mereply kejadian beberapa minggu ini. Oh My God. now i know. Aku baru nyadar. Aku telah jauh dari jalan-Nya. Aku begitu tergiur oleh silaunya persahabatan. Waktu itu aku sangat senang sekali memiliki teman-teman baru yang seperti keluarga. Kini aku tahu kesalahanku. Anggi heran melihatku manggut-manggut.

“Tapi pernahkah kamu bertanya-tanya pada dirimu kenapa aku berlebihan? seingatku kau tak pernah menanyakannya padaku. Yang kutahu, kamu sering bilang aku berlebihan.” mataku menerawang ke sudut langit sambil menimbang2 kata-kata yang tepat untuk diucapkan

“Kamu tau gak? sikap berlebihanku itu sebuah refleksi. Aku selama ini hidup dengan banyak teman. Namun hanya beberapa orang yang dekat. Terlalu banyak hal yang kulalui sendiri. Setelah lulus kuliah, temanku mulai berkurang jumlahnya. Aku larut dalam pekerjaan yang menyita banyak waktu, sementara teman2ku menghilang entah kemana. Aku ingin sekali bercerita, namun aku takut mengganggu orang lain. Apalagi untuk teman2 yang baru ku kenal. Beberapa bulan ini aku memang sedang menghadapi sesuatu yang menurutku bukan hal sederhana, setidaknya aku belum bisa menganggapnya sederhana.”

Lagi-lagi hanya ad akeheningan di antara kami, kulihat sekilas Anggi jug asedang menyelami pikiranku.

“Peristiwa itu terjadi berturut-turut. 4 bulan lalu, aku ketauan punya penyakit yang menganggu sistem kekebalan tubuhku. Aku sengaja tak bercerita kepada siapapun. Lalu orang tuaku memaksa aku untuk menikah dengan pilihannya, jika tidak maka aku boleh pergi dari rumah dan tidak diakui sebagai anak mereka lagi. Mulanya aku menurut sambil mencari informasi siapa orang itu sebenanrnya. Dan ternyata orang itu sering gonta ganti istri. Yah kedua hal itu cukup menganggu pikiran dan emosiku ditambah beban pekerjaan. Aku merasa kamulah orang terdekatku, yang mengerti dan memahamiku. Sikapku yang berlebihan itu refleksi dari rasa kehati-hatian. Aku pikir kamu bisa menangkap emosi yang sedang menguasaiku, bahwa semua itu tak ditujukan untukmu. Ternyata yang terjadi sebaliknya, kamu kesal karena aku selalu berlebihan. Sekarang aku sudah menemukan sebuah tempat yang cocok untuk menumpahkan segala emosiku. Aku memiliki blog yang senantiasa menemaniku tanpa rasa. Dia hanya diam, membisu, mendengar sumpah serapahku. Justru itu yang kuperlu. Aku butuh didengarkan. sudah cukup. ” kataku mengakhiri cerita.

Kulihat anggi menghembuskan nafas panjang..

“Div, maafkan aku ya.” katamu lirih

“aku bahkan tak bisa menjadi teman yang baik buatmu, sampai kamu membuat blog untuk mendengar semua curhatmu.maafin aku ya. Aku janji setelah ini aku akan jadi teman yang baik untukmu, kamu boleh cerita apa saja, sesukamu kapanpun, tengah malam sekalipun.”matanya memerah menahan bendungan air mata

“Aku maafkan. jangan kuatir. Sudah 4 minggu ini aku bergabung dengan komunitas fotografer dan pecinta lingkungan. Nanti sore aku ikut om ke jawa tengah, di sana ada sebuah rumah sakit holistik yang bagus untukkku. Setidaknya aku akan mencobanya. Aku sudah tak tahan dengan ritual meminum antibiotik tiap malam yang tak kunjung memberi kesembuhan. Aku akan di sana cukup lama. Aku amish menyalakan YM dan menulis di blog. Dan bila tak kau dengar lagi kabarku atau tulisanku tak lagi sama, bahasaku mungkin berbeda, maka kamu sudah tau jawabannya. Mungkin saat itu ada orang lain yang mengagntikanku. Menyalakan YM dan menulis di blogku. Mungkin aku sudah mati, tapi tidak dengan tulisanku.” kataku mengakhiri

Sore itu terlihat indah, matahari di ufuk baratΒ  memberi sinar indahnya. Disertai hujan rintik-rintik kami berpisah. Kali ini untuk waktu lama. Anggi tak pernah tau kalau dokter telah memvonisku hari itu aku akan mati. Dan sampai saat ini, detik ini, rupanya Allah berkehendak lain. Aku diberi kesempatan hidup sekali lagi. melihat banyak hal untuk kubagi dengan yang lain. Menurut kabar dari orang dekatku, Anggi mengira aku sudah mati. Ya memang, aku yang dulu memang mati. Sekarang aku menjadi manusia baru lengkap dengan identitas baru di negeri orang.

*****Entek******

Citayam, 00.45 WIB, 15 Maret 2009, menulis sambil makan nasi berkat yang tak juga habis. Cerita ini hanya sekedar imajinasi untuk melepas rasa jenuh, jika terdapat kesamaan cerita, nama, kejadian, itu hanya kebetulan saja. Hehe

Penghargaan terima kasih untuk pembaca/blogger yang sudah meluangkan bandwith dan waktunya untuk membaca cerita ini…..

Iklan

15 responses to “Hanya sebuah cerita di malam hari

  1. hwehe… mantap juga imajinasinya.

    v(^_^)

    dua jempol plus satu!

  2. @pencerah : makasih πŸ™‚
    @ farijs : yaa namanya juga imajinasi πŸ˜†

  3. Kena meningitis yah tokohnya?
    BTW.. temanya masih berkaitan dengan ‘seimbang yah’

  4. @ dyena : bisa jadi begitu, seimbangnya sebelah mana yah? ga kepikiran soalnya hehe, jadi penasaran

  5. Bu… mbok ya selesainya itu “the end” atau “selesai” gitu…
    kok ya “entek” πŸ˜†

    cerpen yg bagus πŸ™‚
    imajinasi dirimu selalu bikin sesuatu hal yang bagus πŸ™‚

    hehehe..kalo yang itu dah biasa bu, nah kalo entek kn nda biasa, biar boso jowo makin banyak yg pake dan sekaligus menandakan habisnya ide di kepala :mrgreen:

  6. hayah… mbok ya ditulis “selesai” atau “the end” gitu…
    lha iki.. : “entek” πŸ˜†

    btw, nice story.. as usually.. u have a good imagination.. πŸ™‚

    makasi pujiane bu…not only imagination actually..hehe

  7. atau tulis ‘TAMMAT”
    kaya pilemnya warkop DKI πŸ˜€

    nice story πŸ™‚

    hihihi iya to mbak, keknya pelem2 njaman dulu ada tulisane tamat merah gede banget ya..makasi dah mampir πŸ™‚

  8. widiw, mbak yella bagusnya juga cerpennya, bukukan mbak πŸ˜€

  9. @ okta : boleh2..mau nyeponsori? gak nolaaaaaak πŸ˜†

  10. Kok bisa ya nulis sambil makan nasi ? salut aku.

  11. @ goncecs : makasih dah mampir πŸ™‚
    @ ubadmarko : hehehe iya ne pak, jadi nasinya ga abis2 :mrgreen:
    @ om NH : sebelu, pulang wajib dibaca dl om πŸ˜†

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s