Suatu hari di McD

Hari itu terasa terik matahari menyengat kulit, udara terasa panas dan kering, cuaca hari itu memang sedang tidak bersahabat. Keringat bercucuran dari balik jilbabku. Setelah berjalan melewati pertokoan, kulangkahkan kaki menuju sebuah tempat nongkrong,,kubayangkan di sana hanya membeli minuman gocengan, lalu menghabiskannya selama sejam sambil melihat dan memperhatikan tingkah laku orang-orang. Menerka-nerka isi kepala orang, melatih ketajaman rasa. Saat-saat seperti ini enak digunakan untuk menulis dalam kepala. Mengendapkannya di dalam pikiran selama berminggu-minggu sampai ada keinginan tuk menulis cerpen ato puisi.

Aku sedikit kehausan setelah berjalan hampir 2 km menyusuri jalanan Jakarta yang panas dan berdebu. Kulihat di seberang halte busway, lambang “M” kuning melengkung menunjukkan lokasi restoran McD. Tepat sekali pikirku, modal goceng bisa nongkrong sepuasnya. Sekalian numpang ngadem.

Kulangkahkan kaki menuju McD, dan mulai masuk dengan langkah tergesa. Begitu pintu terbuka terasa hawa dingin buatan manusia menyambutku,,ceessss, udara dingin segera membalut kulitku yang kepanasan. Segera kulangkahkan kaki ke kasir dan memesan minuman. Siang itu antrian tak begitu padat seperti biasa. Maklum ini McD 24 jam. Aku dapat antrian kedua. Di depanku seorang Bapak setengah baya dan seorang anak SD kira-kira kelas 5, sedang memesan Burger gocengan plus minuman dingin.

Tiba giliranku,,sesuai rencana, aku hanya memesan segelas milo dingin gocengan. Sengaja kubayar dengan uang 10 ribuan supaya receh kembaliannya utuk ongkos pulang. Aku mencuci tangan sebentar sebelum mencari tempat duduk. Ku sapukan pandangan sekilas mencari kursi kosong. Biasanya aku selalu mojok di dekat dinding kaca. Tempat yang enak buat mojok rupanya sudah di tempati bapak dan anak yang tadi memesan burger. Gak pa-pa lah pikirku. Toh masih ada kursi kosong tepat di samping sebelah kanan. Ku putuskan mengambil duduk di tempat itu.

Diam-diam aku iri dengan kedekatan bapak dan anak itu, mereka begitu dekat dan saling perhatian. Beda dengan diriku yang gak pernah akur dengan orang tua. Setiap hari selalu ada saja pertengkaran. Kuputuskan minggat ke Jakarta menjalani cita-citaku, menjadi penulis buku best seller. Menjadi guru itu lebih baik dan bermanfaat buat orang banyak, begitu kata ortu.

Milo dingin mulai membasahi tenggorokanku yang kering, kurasakan begitu nikmatnya menjalar di seluruh tubuh. Sambil menikmati milo ice, aku perhatikan Bapak itu tersenyum,

” Enak Nak burgernya?”

” Enak Pak, enak banget, lain kali kalau bapak ada rezeki, belikan buat adik Lina ya Pak?.” tanya di anak tadi

aku melihat ekspresi anak itu begitu senangnya, tiba2 tenggorokanku kering, seperti dicekik oleh kata-kata anak tadi. AKu merasa iba melihat kejadian itu. Aku jadi merasa bersalah telah meninggalkan ortu di kampung nun jauh di sana. Selama ini aku menyia-nyiakan semua fasilitas ortu, uang cukup tapi tidak pernah bersyukur. Aku tak pernah peduli dengan orang lain, tak pernah memberi, melihat pengemis di jalan pun hatiku tak pernah tersentuh.

Rasanya, saat ini juga aku ingin pulang ke kampung. Meminta maaf sama Bapak Ibu. Aku tak sanggup lagi melihat kejadian itu. Kubuang wajah ke samping dan bergegas pulang. Aku tak sanggup tinggal di Jakarta

Cerita ini ditulis berdasarkan pengalaman kakakku yang sedang antri di McD, dia sendiri hampir meneteskan air mata, pengalaman ini menjadi sesuatu berharga buatku, orang tua akan melakukan segalanya demi anak, tak pernah meminta balasan, sudahkah aku membalasnya walau hanya dengan berbakti?

Iklan

7 responses to “Suatu hari di McD

  1. tempat nongkrong bukannya toilet, yah?

    (^_^)v

    yah, dah dua kali ini aku nulis: bersyukur. semestinya kita patut bersyukur. Allâh telah memberi “lebih” kepada kita.

    (^_^)v

    anaknya seberapa tuh, mbak. diculik aja….

    (^_^)v
    anaknya sekitar kelas 5 SD, mau jadi orang tua asuh?
    boleh aja

  2. kirain pengalamanmu sendiri La… 😛

    tapi aku tersentuh juga membacanya 😦
    eh, tumben bunda tersentuh,,,itu pengalaman orang lain dijadikan cerpen, boleh kan?

  3. jadi
    jadilah anak yang berbakti ya dik Yelllllllllllllllllllla
    weh,,itu bukan aku,,,itu tokoh dalam cerpen, hanya saja sudut pandangnya aku,,,

  4. wah….mdh2n mkn banyak anak2 yg bijak n org dws pun smkn arif pula…
    Akirnya bs jg aQ ‘nyampah’….hehe
    nyampah yg banyak gpp kok, kamu kan tamu istimewa, bebas aja disini, anggep aja ini rumahku sendiri

  5. wah jadi inget ortu di rumah 😦
    makane, belajar yg bener, cepetan lu2s, cari duit yg banyak,,,,

  6. aku juga… sama orang tua bisanya minta… udahannya ngajak berantem dan kenceng kencengan suara… 😦

    sedih ingat dosa
    semoga kisah ini bisa membuat kita berubah

  7. jas ortu…. gak bisa dibayangin besarnya. ga akan pernah bisa dibayar!
    bener banget tuh, tapi setidaknya kita bisa lakukan hal yang membuatnya bahagia sebagai penghapus rasa sakit ketika melahirkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s