Noda Ungu (bag. 3)

Rei meluncur tenang dengan Honda Jazznya. Jalanan Bandung sepi dari lalu lalang mobil pribadi. Di dalam terdengar Mozart Clarinet Concerto in A-II. Sambil memikirkan kira-kira kalimat pembuka yang ingin disampaikan ke Astuti. Rei mampir ke rumah bunga, mencari pemanis kado sesuai pesanan papa. Rei mengambil satu tangkai bunga tulip putih.

Sisa hujan meninggalkan danau kecil di pelataran Coklut Book Café. Rei baru tahu kalau sepinya lalu lintas ternyata tersedot ke sini. Apa sih yang membuat orang-orang rame-rame ke sini?padahal enakan tidur di rumah. Parkiran kafe padat dengan mobil pibadi. Rei mengambil tempat parkir dekat trotoar. Memasuki Coklut Book Café terasa suasana hangat menyambut. Sepertinya tempat ini dikelola dengan baik oleh si pemilik. Kehangatan pribadi si pemilik tercermin dari kehangatan suasana dan keramahan pelayan. Seorang wanita anggun menyapa setiap tamu yang datang di sebelah pintu masuk. Hampir semua space telah terisi. Rupanya hujan membuat orang-orang di sini enggan keluar. Hanya ada satu tempat yang kosong, dipojok ruangan, tempat yang paling enak untuk mengerjakan sesuatu karena tidak terganggu orang lalu lalang. Di meja tertulis

Exclusive corner

Tempat telah dipesan

Rei terpaksa mengambil tempat itu sementara. Lagipula Rei hanya sebentar, nanti kalau orang yang memesan dating, Rei akan pindah ke tempat lain. Rei melihat sekeliling, menikmati suasana café yang tenang, aura yang dipancarkan begitu lembut. Rei kini mengerti kenapa papah sangat betah menulis di sini berjam-jam. Rei celingukan. Seorang wanita memperhatikan Rei sejak kedatangannya beberapa menit lalu. sepertinya wanita yang tadi di depan pintu. Jangan-jangan itu yang namanya Astuti, tapi aku masih ingin santai dulu. menikmati suasana café yang hangat dan nyaman.

“ Selamat malam dik?” sapa wanita bergaun hitam yang dari tadi memperhatikan

“ Oh, selamat malam. Maaf saya menempati meja ini. Cuma sebentar kok. Saya sedang menunggu seeorang.”

“ Maaf adik ini siapa?”

“ Saya Reina Dinata, putri pengarang novel Sang Maestro, beliau sering dikenal sebagai Bens Dinata” Rei mengulurkan tangan

“ Saya Astuti Tunjungsari” Astuti menyambut tangan Rei dengan senyum hangat

Muka Rei pucat. Rasanya Rei pernah bertemu orang ini. Dimana? Rei ingat peristiwa dalam mimpi. Rei mengalami de javu, kejadian yang terulang

“ Ada apa Rei?muka Rei pucat?”

“ Oh, enggak papa kok tante, mungkin karena Rei kedinginan.”

“ Sudah beberapa hari Bens Dinata tidak kesini, ini tempat favoritnya. Saya selalu mengosongkan tempat ini. Bens datang setiap saat. Jamnya tidak tentu. Kadang pagi-pagi sekali beliau dating atau sekedar makan siang di sini. Saya sering membiarkannya asik sendirian berjam-jam bersama notebook. Bagaiman kabar Bens?”

Rei menceritakan kondisi papa yang harus menjalani istirahat di rumah. Papa harus mengurangi aktivitas di luar, sementara kegiatan menulis dilakukan dirumah.

“ Ini ada titipan buat tante Astuti. Saya mohon diri, saya harap tante mau menerima, saya permisi dulu. Selamat malam.”

“ Terima kasih sudah merepotkan Rei. Selamat malam. Hati-hati di jalan Rei” Astuti mengantar Rei sampai keluar. Sejenak Astuti terpaku sampai Rei berlalu.

Di Exclusive Corner, Astuti mencium wangi lembut setangkai tulip yang letakkan di atas bingkisan merah. Di dalam kotak terdapat sebuah novel karya Bens Dinata yang belum jadi. Sampul depan tertulis serangkaian kata tepat di bawah judul :

Sebagian diriku ada yang hilang ribuan tahun lalu

Kini telah kutemukan

Kepingannya masih seperti dulu

Kutemukan diantara tumpukan dunia yang mulai lusuh

Aku mencari dimana dahagaku akan berakhir

Tak jua kutemui oase atas lelahnya perjalanan

Kejenuhan ini telah menyesakkan dada

Menghabiskan stok air mata manusia rapuh seperti diriku

Sebuah gambar puzzle menunggu satu keping untuk menjadi sempurna

Akankah puzze itu sempurna?

Bens Dinata selalu punya cara untuk meraih hati Astuti. Sekalipun akan menjadi manusia bodoh.

“ Puzzle itu akan sempurna Bens” Astuti melelehkan air mata pertama untuk Bens, wangi tulip putih menjadi antiklimaks tiga dekadenya.

cerpen ini saya buat awal bulan Juni 2006, saat gak ada kerjaan, mulai pengerjaan sabtu pagi jam 10.00, selesai minggu tengah malam. Selama 2 hari itu saya tuliskan langsung apa yang ada daka pikiran, istirahat hanya sholat, makan, dan ke WC. hehe. Telah mengalami proses editan beberapa kali pleh saya sendiri, secara dulu pernah jadi editor majalah, So..saya coba manfaatkan potensi itu. Mengenai ending, maaf jika tidak sesuai dengan harapan pembaca. seperti itulah kehidupan. ada banyak hal yang kita inginkan tidak bisa terwujud,,,WAssalam

Iklan

8 responses to “Noda Ungu (bag. 3)

  1. wah wah wah..memang berbakat kamu non 😎

  2. Saya komentari dengan dua kata: “luar biasa”

  3. mmmm…. terus terang, endingnya bukan yang saya harapkan :D. bikin ending yang menggigit emang susah. aku sendiri mengalaminya. tapi above it all, cara bertuturnya bagus banget.
    coba kau baca punyaku, aku juga butuh saran buat tulisanku.
    http://latree.dagdigdug.com/2008/04/15/menunggu/

  4. # Febra
    makasih ya Febra,,itu udah saya edit sekitar 7 kali
    lebih,,hehe
    # Pak RAfki
    Terima kasih pak “dua kata” nya membuat saya semangat
    nulis
    # latree
    Endingnya ada pada pembaca masing-masing, dan saya
    paling suka membuat pembaca sendiri yang
    menyelesaikannya. Beberapa cerpen saya sebarkan ke
    teman, teman saya sampe kesal karena ending tidak
    sesuai yang dia harapkan.
    Cerpen ini adalah saya, pengalaman saya, keinginan
    saya yang belum dan tidak akan pernah terwujud. Semua
    emosi ada dalam cerpen itu. Pembaca yang cerdik
    menganalisis, pasti tau apa dan bagaimana saya. Ada
    banyak emosi yang tidak mungkin saya tumpahkan dalam
    dunia nyata, karena akibatnya akan mengerikan. Saya
    coba tuangkan dalam cerita mini berseri. Oke latree, saya
    mampir deh

  5. # achoey : udah tamat kang, kalo kepanjangan mending bikin novel ajah,,,sip deh dah mampir lagi,,,mampir lagi ya kang

  6. Hmm…
    pengen tahu sbnrnya endingnya kayak apaan mbak…hehe
    tp terkadang sebuah crta mmg lbh enak dibuat gitu endignya, biar ngasih kesan sama pembaca…kesannya…jd mikir sendiri n bbs menentukan ending dr crta itu sendiri…iya khan mbak? (pdhl aQ asal ngmong aja).. 🙂

  7. # sarah
    endingnya adalah perceraian itu tidak terjadi,,,tapi di cerpen enakan dibuat menggantung,,,seperti catatan terakhir,,,kadang kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan,,,:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s