Noda Ungu (bag.2)

Rei bertanya-tanya dalam hati, kantuknya menghilang seketika. Perlahan Rei membuka jendela kamar. Udara pagi menyerbu masuk tanpa permisi. Rei menyalakan komputer, mengklik list winamp lalu connect ke dunia maya. Rei meeriksa kotak suratnya di Yahoo.

Ada berita apa ya selama aku ke Aceh. Sibuk gak karuan, sampai buka email aja gak ada waktu. Lagipula gak enaklah, di sana aku harus membantu orang yang susah, bukannya piknik atau jalan-jalan ambil gambar foto.

Uh….Rei melepaskan nafas panjang.

Ada 4 email dari sesama volunteer dan 4 email tak dikenal dengan nama Long_Kiss, sisanya email sampah. Satu persatu email dibuka, rasa penasaran memenuhi benak Rei. Anehnya si pengirim menulis subjectnya : buat si petualang sejati, Rei makin penasaran, setahu Rei tidak ada yang tahu Rei menjadi relawan, teman-teman kampus pun tidak, selama ini Rei dikenal sebagai redaktur majalah kampus. Siapa ya?

Long_Kiss #1 klik

Buat petualang sejati, Reina Dinata

Maaf papa mengatakan ini lewat email, papa tak kuasa memendam cerita ini sendiri. Papa harap Rei mau mengerti dan menyimpan rahasia ini baik-baik. Mungkin sekarang Rei sedang sibuk melaksanakan tugas sebagai relawan, hingga tak banyak waktu buat papa. Papa maklum. Papa tidak marah. Papa bangga Rei punya niat yang tulus dan visi yang bagus. Tidak semua orang mau bekerja tanpa dibayar atau dibayar dengan sedikit uang. Teruslah berkarya anakku. Pasti ada hadiah dari Allah untuk tangan-tangan ikhlas. Mungkin sekarang Rei belum merasakan. Kehidupan Rei masih panjang. Mungkin nanti akan ada keajaiban d isaat Rei terjebak dalam masalah, saat itulah Rei akan merasakan keajaiban tangan Allah mengangkat Rei dari kubangan masalah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Hidup ini misteri. Jangan takut menerjang badai Rei, karena banyak orang yang mendoakan Rei. Mungkin Rei bertanya darimana papa memperoleh email Rei. Papa menemukan kartu nama Rei di kamar, disana ada alamat email Rei.

Tumben papa ngirim Rei email, biasanya langsung ngobrol lama di telepon. Hati Rei berdebar, seperti mau pergi jauh, ngasih wejangan buat anak gadisnya. Tunggu. Ini dia email kedua. Pasti lanjutannya..

Long_Kiss #2 klik

Rei, papa akan mulai bercerita. Rei jangan kaget, papa minta sebelumnya Rei harus merubah cara pandang Rei. Papa minta Rei jangan menanggapi ini dengan emosi sesaat. Pahamilah ini dengan sudut pandang papa, untuk beberapa saat Rei meminjam sudut pandang papa dulu. Baru Rei memutuskan akan bereaksi seperti apa. Terima kasih Rei mau menuruti keinginan papa. Maaf papa banyak meminta.

Rei, belasan tahun lalu terjadi sebuah peristiwa yang selalu papa ingat sampai sekarang. Kamulah orang pertama yang tahu. Mama tentu tidak tahu, sebab papa tahu apa reaksi mama jika mengetahui ini. Papa piker, papa dapat melupakan kejadian itu seiring dengan waktu. Pada awalnya pap dapat mengatasi masalah ini dengan tenggelam dalam kesibukan. Namun, dalam kesendiran bayangan itu selalu hadir memenuhi pikiran, dada papa terasa sesak, terkadang papah menangis sendiri.

Awal kuliah Papa mengenal seorang gadis, namanya Astuti, dia teman om Rizal sahabat papa sewaktu kuliah. Astuti bukan gadis cantik, yang jelas dia tidak sama dengan gadis-gadis lain yang papa kenal. Dia memang tidak memoles wajahnya dengan kosmetik, tapi siapapun yang pernah mengenalnya, pasti setuju kalau Astuti berkepribadian hangat, rendah hati, empatinya luar biasa, dia tidak bisa melihat orang lain menderita. Astuti bukan orang kaya, tapi selalu menolong teman yang kesusahan, siapapun orang itu. Pernah Astuti memberikan seluruh uang tabungan untuk menolong teman yang keluarganya tidak bisa makan. Padahal Astuti sendiri selama sebulan hanya makan nasi putih tanpa lauk. Saat itulah papah mulai tertarik. Papa heran, kok ada manusia seperti ini. Lalu papa mulai sering main ke rumahnya, telepon atau sekedar memberi perhatian kecil. Lama kelamaan ada sesuatu diantara kami. Kita berdua menyadari apa yang terjadi. Kami semakin dekat tanpa ada ikatan. Kami sering bercerita masa-masa SMA, berita politik, kehidupan kampus, bahkan sampai masalah pribadi. Kita jadi sering bersama dalam setiap waktu. Astuti sangat peduli dengan papa, Astuti orang yang paling sabar menghadapi papa, merawat papa dengan kasih sayang jika penyakit papa kambuh. Papa sangat menyayanginya. Meskipun begitu Astuti tidak pernah meminta status dari papa terhadap hubungan yang kami jalani.

Dada Rei semakin berdebar. Jadi papa sering mengirim email buat Rei? Papa enggak pernah cerita. Rei menyalahkan diri sendiri kenapa gak pernah ngecek email. Rei berkali menyalahkan diri. Bukan salah Rei kalau tak ada waktu buat buka email, banyaknya pekerjaan membuat Rei kalang kabut dan kehabisan waktu untuk keluarga. Rei kembali ke inbox dengan double klik

Long_Kiss #3, klik

Waktu kakek pulang dari Jerman, kakek ingin papa menikah segera dengan seorang gadis keturunan bangsawan teman seperjuangan kakek. Gadis itu adalah mama. Papa tak kuasa menolak perjodohan. Resikonya berat jika papa tidak menikah dengan gadis yang derajatnya sama, istri papa tidak akan diakui sebagai anggota keluarga besar Pringgodihardjo. Papa terpaksa menerima tawaran kakek karena papa belum bekerja, calon mertua papa telah menyediakan pekerjaan dengan gaji tinggi. Seharusnya papa bisa menolak perjodohan itu. Sejak dulu papa diajarkan patuh terhadap orang tua. Adat jawa melarang papa untuk menolak kenginan orang tua. Menurut mereka apa yang dilakukan orang tua buat kita adalah yang terbaik. Papa baru menyadari sekarang, selama ini papa hidup sebagai pecundang bukan petarung seperti yang Rei lihat ketika papa memimpin persusahaan. Papa merasa bersalah karena meninggalkan Astuti begitu saja. Waktu papa ke rumahnya untuk meminta maaf dan menceritakan kondisi yang sebenarnya, Astuti hanya diam dan sesekali tersenyum. Papa tidak mengerti ekspresi wajah dan senyumnya. Ekspresi yang selalu membayang di pikiran papa. Hari itu hari terakhir papa melihat Astuti, setelah itu papa tidak tahu dimana Astuti berada. Om Rizal juga tidak tahu kabarnya. Papa tahu Astuti terluka, tapi dia menyembunyikannya dalam senyum, lalu tiba-tiba menghilang untuk merajut hati yang terkoyak. Sampai papa menikah, hubungan itu tidak pernah berawal dan berakhir. Beberapa bulan lalu Papa membaca iklan di internet tempat nongkrong para penggemar buku, namanya Coklut Book Café, pemiliknya bernama Astuti. Meskipun telah 30 tahun berpisah, papa tetap mengenali wajah khasnya, senyumnya di foto yang dipajang samping artikel. Lalu papa menghubung Astuti, kita sering bertemu di cafenya. Bernostalgia dengan getar-getar yang dulu papa rasakan. Kebetulan koleksi buku dan minumannya lengkap. Papa sering menghabiskan waktu disana berjam-jam untuk menyelesaikan tulisan tanpa ada yang mengganggu. Astuti menyediakan corner khusus buat papa. Dan membiarkan papa berakrab ria dengan notebook. Hubungan kami kembali muncul ke permukaan. Efeknya papa jadi jarang sakit, karena ada yang memperhatikan papa. Belakangan papa tahu kalau Astuti janda, papa ingin kembali menjalin kisah dengan Astuti sekaligus menebus kesalahan papa. 28 tahun cukup buat papa membuat keluarga besar mama bangga. Mama sama sekali tidak peduli dengan papa. Papa lelah dengan ini semua. 28 tahun Rei, hidup papa buat mama, tanpa penghargaan, tanpa komunikasi yang enak, papa selalu harus mau menuruti keinginan mama. Kadang mama tidak mau mengerti kalau papa sedang tidak bisa memenuhinya. Mama selalu marah jika keinginannya tidak dipenuhi, sebulan lalu mama tidak mau menemani papa check up karena cemburu sama perawat dokter Johan. Akhirnya dokter Johan yang datang ke rumah. Papa jadi malu sama dokter Johan, untung beliau memahami. Sudah tua begini belum sembuh juga penyakit mama. Papa tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kondisi ini, Astuti jadi oase di siang hari dan embun pagi papa. Astuti tidak mengetahui kondisi rumah tangga papa. Dia hanya tahu semua baik-baik saja seperti yang orang lihat.

Rei makin penasaran, debaran di hati Rei tak kunjung reda. Ternyata memang benar kata orang, air yang tenang menyimpan gejolak. Rei tak pernah lihat ada yang salah dengan perkawinan mama-papa. Rasa kagum Rei terhadap papa kian bertambah. Seperti apa rasanya 28 tahun tanpa penghargaan diri, Rei seperti bisa merasakan gejolak di hati papa. Perasaan benci mulai merayapi hati Rei ke mama. Oh God…

Long_kiss #4, klik

Rei, papa telah memikirkan ini baik-baik. Keputusan ini papa ambil karena kamu sudah dewasa, papa ingin meminta pendapatmu. Enam bulan terakhir papa sering bangun malam memikirkan kondisi yang papa alami. Akibatnya, pagi hari papa baru bisa tidur. Hal ini membuat mama uring-uringan. Membuat kepala papa ingin pecah. Mama enggak mau mengerti, mama hanya menyalahkan, menuntut ini itu. Waktu papa bercerita sering terbangun malam dan terjaga sampai pagi, mamh menuduh papa chatting untuk cari pacar baru. Padahal papa email ke Rei, karena tidak bisa tidur lagi, papa browsing lihat perkembangan dunia atau ngecek kondisi perusahaan.

Rei, papa ingin berpisah dengan mama. Rei masih anak papa, walau bagaimanapun hubungan Rei sama paph akan selamanya. Papah tetap yang akan menjadi wali nikah Rei. Rei boleh berpetualang kemanapun Rei suka. Jadilah petualang yang tangguh. Papa jenuh. Papa ingin, kehidupan papa kembali normal, Astuti lah yang bisa memenuhi kebutuhan papa, seperti nenek yang bisa mengerti papa. Papa ingin istirahat dari segala macam kejenuhan yang menghimpit. Papa tidak bisa lagi berhubungan dengan mama. Mungkin ini noda buat perkawinan papa dan mama. Noda ungu, noda yang papa inginkan. Noda yang seharusnya tidak ada, tapi noda itu sangat indah buat papa. Papa tidak ingin seumur hidup menyesal karena mengambil keputusan yang salah. Papa ingin menghabiskan sisa umur papa dengan orang yang mau mengerti, mencintai dan merawat papa, dan sebaliknya. Maafkan papa Rei, ini yang terbaik menurut papa. Mungkin Rei akan membenci perbuatan papa. Lakukanlah Rei. Tapi plis jangan benci papa, Rei adalah bahan bakar agar semangat hidup papa tetap menyala. Jika kebencian telah tertanam di hati Rei, papa jadi sedih.

Terima kasih Rei mau mendengar isi hati papa

Salam sayang buat petualang sejati

Papa Rei

Membaca email terakhir, serasa Rei mau pingsan. Untung di kamar, bukan di warnet. Rei bisa pingsan sesuka hati di kamar. Rei tidak selemah itu. Rei menganggap masalah tersebut biasa yang terjadi dalam rumah tangga. Rei pikir kejadian ini cuma di sinetron pengisi waktu luang ibu-ibu rumah tangga. Ini bukan masalah berat jika kita mau mengembalikan semua pada Allah, Sang pemilik jagat raya.

Rei bangkit dari duduk, menatap keluar, gunung Gede masih disana, diam, tenang, megah, seolah tak terjadi apapun. Jika Allah menghendaki, gunung itu dapat meletus. Begitu pula yang terjadi dengan papa sekarang. Rei menggeliat, meregangkan seluruh otot badan. Lalu menuju kamar mandi mengambil air wudhu, ritual dhuha tak berniat ditinggalkan. Rei seperti punya hutang yang belum dibayar. Dalam damainya Dhuha, Rei memohon petunjuk

Ya Allah, berilah papa petunjuk. Kuatkanlah beliau untuk bertahan, Rei tahu cerai adalah perbuatan halal yang tidak engkau sukai. Papa hanya manusia biasa sepertiku. Yang punya keterbatasan. Jika saatnya nanti papa harus melepas semua yang beliau miliki sekarang, maka lepaskanlah dengan ringan, janganlah engkau beri beban yang tidak sanggup beliau pikul. Ya Allah buatlah paph kembali ke jalanMu, gerakkanlah hatinya untuk selalu mengingatMu setap saat. Papa masih sering meninggalkan sholat, padahal hanya engkau tempat yang kuat untuk berpijak.

Ya Allah di waktu Dhuha ini mudahkanlah segala urusan papa, mudahkanlah apa yang menurut beliau sulit. Dan janganlah Engkau menggerakkan hatiku yang lemah ini untuk memelihara dan tenggelam dalam perasaan benci.

Amin

Mukena Rei basah oleh air mata. Rei tahu hanya Allah yang dapat menolong Rei keluar dari kesulitan ini. Segera Rei melepas mukena dan mandi. Rei ingin sarapan bersama papa-mama.

######################

Sejak shubuh mama sudah bangun menyiapkan segala kebutuhan papa, mulai menemani jalan pagi, mencuci piring, mencuci baju sampai membuat sarapan.

“ Pah, mama sudah siapkan obat di meja makan, jangan lupa diminum. Ingat jangan terlalu banyak makan jeroan. Pagi ini mama mau ke acara launching baju pengantin dari serat alami. Bayak perancang terkenal yang datang. Lumayan kan buat nambah ilmu mama. Supaya BoUTIQuE enggak ketinggalan jaman.” kata mama panjang lebar sembari memoles eye shadow.

“ Ya terserah mama sajalah. Apa yang menurut mama baik ya lakukan. Tapi kali ini papa tidak bisa menemani” sahut papa sambil membaca koran

“ Kok papa gitu sih. Kayaknya enggak mendukung mama deh, kalau papa enggak bisa ngomong enak mending diam aja, daripada ganggu mood mama. Enggak papa kok mama pergi sendiri, lagian kalau papa ikut paling-paling jelalatan lihatin daun muda. Iya kan? emang mama enggak tahu. Ya udah deh ngomong sama papa enggak ada habisnya. Mama pergi dulu”

“ Hati-hati ya Ma”

Rei mendengar pembicaraan mama-papa, baru sekali ini Re mendengar dengan telinga Rei sendiri. Rei hampir tak percaya. Mama yang selama ini Rei kenal, telah berubah. Mama yang lembut dan penuh sayang, mama yang mengerti kebutuhan keluarga. Rei bisa merasakan letupan emosi di hati papah. Rei juga merasakan kepedihan. Betapa yang papa butuhkan adalah rasa damai.

Setelah mama pergi, Rei mengetuk pintu kamar papa

“ Permisi Pa, apa Rei boleh masuk?” ujar Rei lembut

“Come on girl, this is free area. Ada apa sih kok kamu serius sekali, pasti kamu mau curhat ya? kita ngobrol disamping yuk, sambil kamu sarapan. Kamu belum sarapan kan?” papa sok menutupi gejolak dihatinya

Rei mengambil sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Rei memenuhi ajakan papa. Sarapan sambil ngobrol-ngobrol ditemani pemandangan menyejukkan mata. Sambil makan Rei mendengarkan papa bercerita tentang proses penulisan novel terbarunya. Rei tekun menyimak cerita papa. Rei menyelesaikan sarapan pagi tepat kata terakhir keluar dari mulut papa.

“ Nah sekarang giliran Rei mau nanya sesuatu sama papa.”

“ Oke.”

“ Pa, jadi papa sudah membuat keputusan?papa yakin?” pertanyaan Rei merubah raut wajah papa.

“ Rei baru membaca email papa. Maaf ya Pa, baru sempat. Abis di base camp banyak kerjaan. Kalau itu keputusan papa dan itu yang terbaik, Rei mendukung papa. Tadi Rei tidak sengaja mendengar pembicaraan mama-papa. Terus terang Rei tidak percaya membaca email papa, kejadian barusan membuat Rei tak dapat menolak kenyataan yang terjadi. Papa tidak usah memikirkan perasaan Rei. Rei baik-baik saja dan Rei bisa mengatasi keadaan yang ada. Kalau Rei boleh memberi saran apa papa tidak sebaiknya melanjutkan sandiwara 28 tahun itu? Dan membiarkan mama seolah tetap menjadi ratu di hati papa. Rei akan menympan ini semua. Rei tidak membenci papa atau mama. Walau bagaimanapun mama-papa adalah orang tua Rei, yang akan menikahkan Rei dengan orang yang mencintai Rei kelak.” ucap Rei

“ Terima kasih Rei, papa menghargai pendapatmu. Kamu akan merasakan posisi papa jika kamu telah menikah nanti. Papa berharap tidak terjadi pada rumah tangga Rei.” Papa terdiam sejenak, sepertinya papa ingin mengatakan sesuatu

“ Rei, papa minta tolong antarkan ini ke Coklut Book Café, berikan pada Astuti, jangan katakan dari papa. Makasih ya Rei” mata papa berkaca.

to be continue

Iklan

5 responses to “Noda Ungu (bag.2)

  1. Assalamualaikum
    terima kasih doanya ukhti , Allah mengabulkan , Saya bisa menemukan warnet yang lumayanlah jaraknya dari Rumah kakak , selidik punya selidik , baru buka hari ini dan saya adalah pelanggannya yang pertama
    Subhanallah , Maha Suci Allah , niat yang lurus Insya Allah lurus pula jalannya
    begitu juga dengan cerbung ini , saya menunggu kelanjutannya , Insya Allah mencerahkan bagi kita semua
    terus berkreatifitas ya
    Insya Allah , sarannya ukhti sedang saya jalankan sekarang
    doakan saya ya

  2. wah coba terbitin tuh. tapi janga cerpen yang ini. bikin lagi! 🙂

  3. # Realylife
    Alhamdulillah, saya hanya berbagi pengalaman, biasanya
    kalau kita ragu, yang terjadi adalah yang tidak kita inginkan.
    Saya juga baru tahu bahwa kehidupan ini yang dijalani
    dengan hukum alam (Hukum Allah) dan kita yakin akan
    pertolongan Allah, InsyaAllah kita senantiasa jadi orang
    beruntung. Keyakinan kita seorang diri tentang Allah
    mengalahkan keraguan 1000 orang yang ada di sekeliling
    kita. So, percaya dirilah dengan kemusliman kita
    # Kang Achoey
    saya dari dulu ogah banget terbitin karya saya, banyak
    yang protes terutama keluarga. Saya lebih suka karya saya
    originil tanpa sentuhan para editor, karena itu
    karya saya tidak dijual,,hehe (sok idealis ya Kang,
    mudah-mudahan suatu saat nanti idealisme saya ini bisa
    terkikis)

  4. Mbak.
    beneran deh, knp g bkn novel jg? Keturunan papa deh kayaknya…hehe

  5. # sarah : iya,,kapan ya bikin novel? belom kepikiran menulis untuk dipublikasi,,hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s