Noda ungu (bag.1)

Di sela kesibukan saya yang lumayan padat, ada waktu-waktu tertentu yang membuat saya harus menulis cerpen. Penulisannya pun gak bisa berhenti, sekali waktu langsung jadi. Saat stress berat justru saat paling asik menulis cerita. Entah kenapa ini bisa jadi obat pengusir stress. Saya pakai nama pena SHAKTI NAURA, biar keren dikit, hehe.. Ini salah satu cerpen saya yang selamat dari virus komputer. Selamat membaca, semoga pembaca dapat mengambil manfaat dan hikmah di dalamnya.

NODA UNGU

By Shakti Naura

Sejenak Rei memandang keluar jendela pesawat yang sebentar lagi mendarat di bandara Ali Sadikin. Hamparan awan memenuhi mata elangnya yang sipit dan tajam. Rei tersenyum damai. Rei ingat waktu kecil dulu ingin tidur di atas awan, ingin tahu seperti apa rasanya awan. Mungkin seperti kapas wajah milim mama. Rei ingin suatu saat terbang di atas awan, kini Rei ingat impiannya dulu menjadi kenyataan, terbang menggunakan pesawat (tentu saja), bukan sayap seperti malaikat kecil dalam dongeng. 20 menit lagi Rei menginjakkan kaki di bumi Parahyangan tercinta, setelah 1 tahun tak pulang ke rumah. Ini semua demi cita-cita Rei bergabung dengan LSM asing untuk Aceh Development. Rei sengaja tidak memberitahu papa-mama atas kepulangannya. Lagipula papa harus banyak istirahat dirumah karena penyakit lamanya kambuh lagi, kebanyakan begadang. Kalau tahu Rei pulang, papa pasti memaksa untuk menjemput Rei di bandara. Mama juga sibuk di BoUTIQuE. Kadang Rei merasa bangga dengan kedua orang tuanya. Pada satu titik tertentu mereka bukan orang yang suka mengejar uang. Maka papa-mama langsung memberi lampu hijau waktu Rei mengutarakan niat ingin menjadi sukarelawan di Aceh. 3 tahun lalu papa rela melepas jabatan Presdir perusahaan retail yang sekarang di limpahkan ke om Dedi, adik papa yang baru pulang dari New York. Papa ingin menikmati hidup sebagai manusia biasa. Kembali menjalani hari-hari tanpa stres di kantor. Tak ada lagi meeting panjang yang melelahkan pikiran. Juga deadline-deadline yang membuat manusia tak ingat waktu. Papa memutuskan menulis buku dan novel melanjutkan cita-cita semasa SMA. Sedangkan Mama memutuskan keluar dari perusahaan asing yang telah membesarkannya selama 20 tahun. Mama mendirikan BoUTIQuE dengan uang hasil tabungan selama bekerja. Mama sangat menikmati pekerjaannya, sampai-sampai tak memperhatikan papa. Akibatnya papa sering sakit untuk memperoleh perhatian dan kaih sayang dari mama.

“ Kepada penumpang Flower Arlines, pesawat sebentar lagi mendarat, cek kembali barang bawaan anda, jangan sampai ada yang tertinggal. Terima kasih atas kepercayaan anda menggunakan jasa kami.”

Begitu pesawat mendarat, Rei mampir sebentar ke Shop Corner membeli oleh-oleh untuk papa dan mama. Papa suka memesan pulpen buat siapapun yang pulang dari perjalanan jauh dan mama suka sekali dengan bros.

Setelah mendapat barang yang dicari, Rei segera membayar di kasir. Rei ingin cepat sampai rumah. Tak sepert biasanya Rei selalu menyempatkan diri menyeruput cappucino hangat di Coffee Beans. Rei ingin sekali memeluk papa-mama. Rei kangen. Selama menjadi volunteer Rei kehilangan kehangatan keluarga. Taksi mengantarkan Rei tepat di depan rumah.

Rei mampir ke BoUTIQuE yang terletak persis di seberangnya. Di sana mama sering menghabiskan waktu. Rei ingin mengejutkan mama. Tampak mama sibuk memasang scraft di manekin.

“ Pesanan scraf saya sudah ada Bu?” Rei menggoda mama

“ Rei…” mamah langsung memeluk Rei

“ Bagaimana kabarmu sayang? Kamu baik saja kan?mamah khawatir. Kenapa tidak kasih tahu mama dulu kalau mau pulang. Kan mama sama papa bisa jemput kamu.”

“ Rei mau kasih kejutan. Tara…ini oleh-oleh buat mama. Sori Ma, Rei enggak sempet jalan-jalan waktu di Aceh, tadi Rei mampir di Corner Shop bandara. Mama pasti suka deh.”

“ Enggak apa-apa sayang. Kamu malah repot-repot beli oleh-oleh buat mama. Kamu pulang dalam keadaan sehat mama sudah senang, yang penting adalah kesehatan kamu. By the way, kebetulan mama baru aja membuat setelan pesta yang cocok dengan bros ni. Makasih ya sayang” mama mencium pipi Rei dan memeluk erat.

“ Ma, Rei kangen mama. Di sana Rei enggak bisa makan karedok buatan mama. Rei juga kangen papa. Gimana kondisi papa?” Rei mendadak teringat papa

“ Yuk kita ke rumah. Mama sampai lupa”

Mereka berdua menyeberang jalan menuju rumah utama. Kemudian langsung ke ruang keluarga yang menyatu dengan pemandangan dari luar. Biasanya papa suka menghabiskan waktu di sana, viewnya terlihat kontras sekali. Dari beranda terlihat hamparan sawah dan pepohonan hijau dengan latar belakang gunung Gede. Membuat siapapun malas beranjak. Papa rela menghabiskan waktu berjam-jam ditemani laptop kesayangannya.

“ Pa, coba lihat siapa yang datang” mamah mengagetkan papa yang sedang membuat bagian akir novelnya

“ Iya sebentar. Suruh tunggu dulu di ruang tamu, sebentar lagi papa selesai, tanggung nih” papa menyahut tanpa melihat ada Rei di belakang

“ Silakan sang maestro melanjutkan tugas, saya tidak akan mengganggu, saya akan menunggu sampai maestro selesai”

papa mengenal betul suara seseorang yang dibelakangnya

“ Rei…” papa memeluk erat

Rei memeluk papa erat, sama eratnya dengan pelukan papa. Ada energi hangat menyembul diantara keduanya. Sesuatu yang selalu dirasakan Rei setiap kali papa memeluk Rei, seolah Rei tak ingin papa dimiliki yang lain, selain Rei dan mamah. Meski Rei tahu diluar sana seorang wanita telah memberi kehangatan seperti ini pada papa. Sesuatu yang tak pernah papa peroleh dari mama. Rei ingin wanita itu pergi dari kehidupan papa, tapi Re tak bisa menghalangi apa yang papa butuhkan buat hidupnya. Perasaan Rei kembali ungu.

“ Pa kabar maestro?”

“ Pa kabar juga petualang ?”

mereka berdua tertawa bersama, tawa renyah yang Rei selalu rindu kala jauh dari rumah. Mama ikut merasakan kehangatan itu. Tawa mereka berderai. Cerita mengalir seru dari mulut Rei selama di Aceh. Papa dan mama bertukar cerita tentang aktivitas akhir-akhir ini. Malam menyapa pelan, ketika rangkaian cerita ketiganya hampir selesai. Mama menyilakan Rei membersihkan diri dan istirahat. Rei mencium pipi papa-mama, lalu minta ijin istirahat.

####################

Rei meletakkan 2 ransel besar di kamar, rasa penat mulai menyergap. Rei menikmati segarnya air shower hangat. Selama menjadi volunteer, kebiasaan mandinya yang lama tak pernah dilakukan lagi. Air shower menelusuri tubuh Rei yang lelah dan penuh sisa keringat. Rei membaluri tubuh dengan scrub, membilas, dan terakhir berendam di bath up yang telah diberi minyak aromaterapi. 45 menit Rei sudah siap dengan baju tidur, tak lupa Rei mengoleskan krim malam untuk wajah. Doa pengantar tidur mengiring Rei sampai pulas.

Pukul 3.30 pagi Rei terbangun oleh jam biologisnya. Rei mengambil air wudhu, sholat tahajud, tadarus sambil menunggu shubuh. Setelah sholat shubuh Rei tidak kembali tidur. Rei mengingat mimpi semalam. Rei bertemu dengan seorang wanita, usianya tidak jauh dari usia papa. Pertemuan tak sengaja di bandara dalam perjalanan Aceh-Bandung. Wanita itu tidak sengaja menabrak Rei yang sedang keluar dari Corner shop dan meminta maaf atas kelalaiannya, ia ingin mentraktir Rei minum kopi buat menebus kesalahan. Karena tergesa-gesa, maka ia hanya memberikan kartu nama. Rei terpaksa menerimanya

Astuti Tunjungsari

Coklut Book Café

Meet me at : Tulip raya 96 Bandung

Hidup akan berarti bila hari ini kita memberi arti

Mengapa ada seorang Astuti tiba-tiba masuk dalam mimpiku? siapa dia?, apakah aku mengenalnya? Rasanya tidak. Apa hubungannya denganku?

to be continue

Iklan

9 responses to “Noda ungu (bag.1)

  1. wah-wah..berbakat jadi penulis nih..ditunggu kelanjutannya 😎

  2. mbak ajari aku bikin cerpen dunk …

    salam kenal ya mba :d

  3. wah seru
    nama penanya juga bagus
    pernah baca novel sang khilaf?

    emang ga ada 😀

  4. SHAKTI NAURA? keren juga. kenapa juga sih pake nama pena? kan nama mbak dah keren tuh.

    (^_^)v

    ditunggu lanjutannya.

  5. # Febra
    bakat alam mas febra
    # desmeli
    bikin cerpen? ya bikin aja, nanti saya yang bantu
    editornya,,,bikin diary aja selama satu minggu,,,itu juga
    sudah bikin cerpen kok,,,cerpen lebih mudah daripada novel.
    konfliknya cuma 1 pun bisa disebut cerpen,,,,bikin
    aja,,,jangan pikirkan bagus atau jeleknya,,,itu urusan
    belakang,,,lam kenal juga ya Des
    # achoey
    alhamdulillah ada yang suka sama cerpen saya, belom
    pernah baca tuh,,,nanti deh dibaca
    # Faris
    enakan menghilangkan identitas sebenarnya, identitas dunia
    maya saya Shakti Naura,,,hanya di WP saya pakai nama
    asli,,,hehe.

  6. Saya skip ..

    Masih ada sambungannya ya? .. ntar kalo sudah dijadiin buku, kasih tahu ya.

  7. # bang Erander
    memang cerpen buatan saya sengaja dibikin Absurd, masih
    ada sambungannya Bang, nantikan kelanjutannya, sering
    mampir ya Bang,,,jangan kapok ya.

  8. Hehehe…
    keren mbak cerpennya, tunggu sampe aQ baca bagian 2 n 3…

  9. Ping-balik: Lembayung Bali « Lebih Dekat dengan Alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s