sati

sati…

malam ini aku bingung sendiri

resah

bertumpuk pertanyaan di kepala yang tak bisa kujawab

bantu aku sati

mengapa kau masih saja diam membisu

mengapa kau biarkan aku mendaki gunung es mu

sendirian..

satu hal yang tidak pernah buatku berhenti adalah senyumanmu

satu senyuman melegakan ketika menatap wajah damaimu

sati,

harus aku kemanakan rasa yang menggebu ini

hidup mengajarkanku agar tak terlampau mencinta

melebihi cinta kepada Tuhan

Lalu…

sekarang apa yang harus kulakukan?

haruskah aku menunggumu keluar dari gunung es mu

sampai waktu yang tak terbatas

mungkin sampai aku mati

sati,

harus kuletakkan dimana cinta untukmu?

di matamu?

di senyum mu?

atau hanya di dadaku saja?

tapi aku tak sanggup menanggung ini sendirian

sati,

aku sadar sepenuhnya bahwa gunung es itu adalah perbedaan kita

budaya, bahasa, agama

hanya satu yang telah mempertemukan kita

waktu…

waktu telah mempertemukan kita dengan durasi yang sangat cepat

seperti kilat, masih adakah impian untuk bertemu denganku, sati?

Iklan

4 responses to “sati

  1. cuma ungkapan hati saja kok
    heheh

  2. sati , jangan pernah menyerah , sesuatu yang indah pasti ada
    yakinlah

  3. # realylife
    makasih mas said dah mampir, saya mulai menggali lagi
    bakat terpendam yang sudah hampir terkubur, tiba-tiba
    semangat lagi nulis sastra, selama ini kan ilmiah terus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s