Belajar dari tukang gorden keliling

Hari ini saya mendapat hikmah dari seorang tukang gorden yang hidupnya pas-pasan. Buat makan aja kadang ada, kadang harus ngutang. Satu hal yang membuat saya kagum adalah misi hidupnya. Dia bukan tukang gorden biasa. Walaupun hidup di kampung, pemikirannya sangat maju. Menurut saya ini juga pahlawan tanpa tanda jasa.

Namanya Pak Ayi Rohaman. Pekerjaan sehari-hari menjajakan gorden keliling yang cuma laku 1 kali dalam seminggu. Setiap pagi sebelum keliling, Pak Ayi menyempatkan membaca. Menurutnya kita harus rajin membaca supaya ilmu bertambah sehingga kalau memberikan pendapat tidak sekenanya. Dengan menjajakan berkeliling Pak Ayi dapat bertemu dengan orang-orang baru, memperoleh banyak kenalan, melihat banyak hal yang bisa menginspirasinya berbuat sesuatu. Suatu hari saat berkeliling, Pak Ayi melihat seorang anak kecil merengek minta dibelikan buku, namun orang tuanya tidak sanggup membelikan.

Nurani Pak Ayi tergugah. Beliau pulang ke rumah dan memikirkan sesuatu. Tercetuslah ide untuk membuat perpustakaan. Berbekal niat, keuntungan menjual gorden digunakan membeli buku. Terbayang bagaimana sulitnya hidup Pak Ayi. Dengan tekad kuat Pak Ayi mendirikan perpustakaan di teras rumah dengan 75 buku. Pak ayi juga menyediakan makanan kecil untuk menarik minat anak-anak.

Perpustakaannya berkembang menjadi tempat belajar membaca, mengerjakan PR, tempat menimba ilmu. Pernah suatu kali seorang anak kebingungan mencari buku untuk mengerjakan tugas sekolah. Ternyata tidak ada di perpustakaan. Pak Ayi segera pergi ke pasar membeli buku yang dimaksud. Melihat cerahnya anak tadi, hati Pak Ayi sangat senang.

Setahun kemudian perpustakaannya dinobatkan sebagai perpustakaan terbaik se-Bandung. PAk ayi menerima hadiah buku-buku bekas dari bupati. Pak Ayi juga diundang ke kampus-kampus untuk menceritakan pengalamnnya mengelola perpustakaan. Walaupun miskin, bukan berarti egois memikirkan diri sendiri. Pak Ayi justru memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Pak Ayi bermimpi besar seandainya jadi tukang gorden sukses, beliau ingin mendirikan perpustakaan. Gambar sketsa bangunannya telah dibuat sejak lama pada selembar karton.

Sebuah yayasan mewujudkan mimpi Pak Ayi. Kini perpustakaannya dikunjungi 150-230 orang setiap hari, dari anak-anak SD, SMP, SMA, dan masyarakat biasa. Gedung perpustakaan juga digunakan untuk kegiatan lain seperti pengajian rutin, kursus komputer dan bahasa inggris gratis, dan latihan angklung.

Membaca cerita di atas, saya merasa belum melakukan apa-apa yang bermanfaat untuk orang banyak. Saya coba menuangkan ilmu dan pengalaman yang saya miliki di blog ini sesuai kapasitas saya, semoga saja bermanfaat.

Iklan

5 responses to “Belajar dari tukang gorden keliling

  1. wah bijak…
    mbak yella mendapat hikmah dr kegiatan di sekitar ya…

  2. iya neh, saya jadi malu ma diri sendiri…
    semoga saya bisa manfaatkan ilmu saya untuk memecahkan masalah orang lain. amin

  3. perasaan pak ayi dah pernah diliput ama tipi, ya? rasa2nya dah pernah liat soalnya….

    (^_^)v

  4. oh ya, ini saya baca dari tarbawi.emang udah sering diliput kok, dah banyak wartawan yang ke sana. Waktu baca di tarbawi saya sampai terharu banget. UDah jarang orang seperti Pak Ayi. Walaupun hidup pas-pasan dia masih mikirin orang lain. Jadi bisa belajar prinsip hidup win-win. KAlau kita membahagiakan dan membantu orang lain, nanti kesulitan kita akan dimudahkan sama Allah.

  5. Subhanallah, salut dengan Pak Ayi. Bisa tetep membantu orang lain walau hidup dalam keterbatasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s