my room

kamarku.jpg

Kamar berukuran 3,5 m x 2,5 m selalu membuatku rindu. Selalu membuatku ingin pulang. Ruangan yang cukup besar buatku. Tepat di atas ruang dapur. Tangga kayu menuju kamarku begitu curam nan melingkar, sehingga jarang sekali anggota keluarga yang naik ke atas kalau gak penting banget. Inilah keuntungannya, kamarku jadi jarang dikunjungi orang. Ruangan ini jadi seperti ”dunia lain” bagiku. Cat warna hijau pupus menyegarkan mata. Sebagian tembok kamar serta pintu terbuat dari kaca sengaja kubiarkan tak bertirai, supaya anggota keluargaku dapat menemuiku segera bila ada perlu. Mereka langsung dapat melihat aktivitasku tanpa harus membuka atau mengetuk pintu. Pintu kamarku selalu terbuka untuk siapa saja.

Jendela kaca menghadap ke arah barat tepat di seberang perumahan pertanian yang tinggi. Rumahku memang terletak di lembah. Aku pun leluasa mengamati jalanan tempat hilir mudik kendaraan. Bila kejenuhan melanda, seringkali ku matikan lampu kamar untuk menikmati suasana malam hari yang indah. Bintang dan bulan menyapa mesra. Cahaya lampu hanya berasal dari lapangan bulutangkis yang menyala tiap malam persis di depan rumah, menerobos tanpa permisi melalui jendela kaca.

Pagi hari, begitu melihat ke jendela, pepohonan menyapa ramah. Kamar ini sengaja tak dilengkapi dengan pendingin buatan manusia. 3 lubang angin kurang lebih 30cm x 30 cm tak kututup dengan sehelai kain pun. Cukup untuk mengatur udara keluar masuk dengan leluasa. Kamar ini benar-benar alami seperti suhu di luar.

Alarm pagi yang membangunkanku adalah angin dingin yang tipis masuk dari lubang angin menusuk kulit hampir membuatku menggigil. Jadilah aku terbangun, segera menunaikan shubuh. Dari salah satu jendela ruangan samping, bila cuaca cerah, seringkali terlihat hamparan gunung Pangrango tanpa awan di sekelilingnya. Wow, it’s really amazing. Hampir-hampir tak berkedip dibuatnya. Tersenyum aku sendiri.

Nyaris tak ada benda berharga di “dunia lainku”, selain koleksi buku-buku di rak khusus. Koleksi dari tahun 1970 sampai 2008. Buku tertua usianya 1970an, dengan ejaan lama, buku itu masih enak dibaca. Buku itulah yang pertama kali membawaku kepada sebuah pencerahan hidup. Sejak itu aku tergila-gila dengan ilmu psikologi. Sejak kelas 3 SMP, kutemukan buku tak berpemilik di tumpukan lemari buku koleksi keluarga. Buku itu berwarna hijau pupus mirip cat kamar. Dibeli oleh kakakku di tukang loak Kwitang, Pasar Senen, Jakarta Pusat. Klo yang belom tau Kwitang —à ada di salah satu scene film Ada Apa Dengan Cinta, waktu Rangga mengajak Cinta ke pasar buku bekas, ke tempat Rangga sering nongkrong.

Judul buku itu “How To Think Positive” karya Norman Vincent Peale. Sudah ada cetakan terbarunya tapi aku lebih senang membaca versi lamanya. Di buku itu ada beberapa ayat dari Injil yang kurang mengerti, bahasanya terlalu terbelit. Sulit dimengerti.

Kamar ini nyaris jadi tempat curhatku. Saat bosan aku menyeduh cappuccino panas di cangkir putih sambil menyapu pandanganku ke luar jendela. Klo lagi mood ya liat tivi, atau baca buku sambil menyeruput panasnya cappuccino.

Barang-barang yang ada di kamar tak ada yang mewah. Hanya ada tv kecil ukuran 14 inci, kipas angin besar untuk anti gerah, kasur tanpa bed, koleksi buku, laptop Pentium 2 keluaran IBM Think Pad yang keyboardnya udah gak bisa dipakai (banyak file-file penting terjebak di dalam). Laptop ini tak pernah ku pakai, kubuka sesekali sebagai obat rindu. Aku lebih suka pakai PC biasa.

Semua ada di kamar, dialah jiwaku. Kamar adalah curahan hati sang pemilik. Kamar adalah saksi bisu, diary tak tertulis. Semua rasa beradu. Kamar juga tempat aku melepas kepenatan hidup. Tempat paling asik mempraktekkan “PSYCOCYBERNETICS” ilmu ciptaan Dr Maltz, psikolog tahun 1930-an yang belakangan bukunya muncul lagi di pasaran dan laris manis. Kamar adalah segalanya. Emosi jiwa.

Siapa yang akan berkunjung ke kamarku? Dia akan merasakan kehangatan aura yang terpancar darinya..

WELLCOME HOME HONEY

Iklan

8 responses to “my room

  1. Lha… emang siapa aja yang boleh masup kamarnya mpok? :mrgreen:

    Kayak-na, suasana di rumahnya sejuk ya mpok, masih rimbun dengan pepohonan…

  2. HALO CABE RAWIT…lam kenal
    yang masuk ya ada nyamuk n semut,ditambah temen-temennya seabrek…hehe

  3. hehehehehehheeh. labtopnya emang p2 dan asesoris kamar yang biasa tapi koleksi bukunya itu, wahhhh gak kuat.
    tapi walau begitu kayaknya menikmati cappuccino gak pernah hilang ya dari kebiasaan.
    itu foto di ambil dari mana kok kelihatan atap rumahnya saja.

    dari jendela kamar saya
    klo saya lagi suntuk
    liat langit selama beberapa menit di malam hari
    rasanya semua masalah jadi hilang
    setiap bangun pagi, hal pertama yang saya lakukan adalah
    melihat ke luar jendela
    rasanya bersemangat
    chayo

  4. askkkkkkkkkkkkkkkkkkum
    aku juga pengen koment,,,biar laris websitenya.hehe
    yo kapan rek nulisnya…kok gak pernah cerit ce….koleksi fotonya juga banyak….

    cukup wezzzz…
    wazkum

  5. Profil kamarnya udah lengkap bangat, tapi aku masih penasaran dengan profil pemiliknya.

    ada kok, penasaran ya?
    hehe

  6. Ping-balik: Pulang liburan « Bersama Berbagi Rasa

  7. jadi kepengen lihat kamarnya,…
    tapi saya ndak boleh masuk ya ?
    kecuali,…
    mba Yella keluar dulu

    xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

    selain muhrim dilarang masuk,,,awas kamar perempuan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s