Oh mama, Oh Papa

weeee…..hari ini saya baru tahu masalah yang menimpa murid saya. Sebut saja namanya Alexa. Untung saya gak ikut-ikutan melabeli Alexa. Menyedihkan sekali. Ini betul-betul menyedihkan. Menurut guru sekolah nya, Alexa di kelas termasuk anak yang aneh. Nilai ulangannya selalu jelek, padahal materi yang dibuat ulangan sama dengan materi latihan. Hanya dia yang begitu, sedangkan murid lainnya tidak. Suka ketawa-ketiwi, pokoknya segala sesuatu bisa bikin dia ketawa. Tidak punya temen dekat. Anehnya ada 1 anak laki-laki yang naksir berat dari kelas 4 SD. Ngejar-ngejar segala.

Orang tua Alexa sudah angkat tangan mengenai hal ini. Segala upaya telah dilakukan. Tetap saja prestasi Alexa tidak naik. Namun tidak dengan saya. Saya tidak pernah memperlakukannya seperti orang aneh. Malahan saya mengajar pake cara yang dia suka. Hasilnya? wow menakjubkan. Apapun yang saya berikan, dia selalu bisa menerima dengan baik.

Sebelum tiba di rumahnya, saya selalu berdoa supaya Alexa diberi kebahagiaan dan kemudahan. Saya minta ijin sama Allah supaya saya diberi kesempatan untuk mengisi memorinya dengan ingatan indah dan menyenangkan. Setidaknya dia pernah ingat bahwa ada satu bagian hidupnya yang indah. Bukan hanya kritikan dan aturan harus ini itu. Saya ingin membebaskan dia dari belenggu diktator orang tua, guru dan lingkungan yang hanya menilai anak dari sisi IQ saja. Padahal kehidupan tidak dibentuk dengan kekuatan IQ.

Saya jadi membayangkan, bagaimana ya klo di tahun-tahun mendatang banyak murid sekolah negeri yang seperti ini?

siapa yang salah? tentu tidak ada yang mau disalahkan. Pemerintah? apalagi, bukannya masalah jadi selesai, baru ada isu perubahan UU saja ramenya bukan maen. Kritik sana, kritik sini. Lagi-lagi anaklah yang jadi korban

Pemerintah lewat sekolah dan kurikulumnya menghasilkan “narapidana” berwujud anak-anak. Anak-anak yang akan tumbuh manusia menjadi penakut dan pemarah. Penuh keraguan menatap masa depan. Inilah kesedihan saya yang paling dalam.

Iklan

8 responses to “Oh mama, Oh Papa

  1. jangan terus bersedih dan memikirkan , bagaimana kalo kita memulai aksi , dari diri sendiri , lingkungan sendiri , dan mulai dari sekarang
    itu saja

  2. pada tahun 2007 saya pernah membantu memberi pelajaran tambahan di sebuah sdn di jakarta, untuk kelas 4 dan 6 mata pelajaran math, kurang lebih selama 4 bulan. sesuatu yang luar biasa yang saya temui adalah : anak kelas 4, kurang dari 10% yang lancar dalam penjumlahan, dan anak kelas 6 kurang dari 5% yang bisa mengerjakan perkalian. padahal sdn tersebut adalah sdn yang tidak terbelakang.

    setelah berkonsultasi dengan kepala sekolah, memang hal ini karena kurangnya dukungan keluarga dan lingkungan terhadap anak untuk belajar.

    yang terpenting bukan hanya iq, tetapi juga eq dan sq. eq berkembang melalui lingkungan pergaulan, dan sq melalui binaan iman.

    dukungan keluarga, bimbingan orang tua, pergaulan mempengaruhi emosi anak, termasuk minat dalam belajar. sementara bimbingan iman yang benar, akan membantu anak untuk menjadi manusia yang berakhlak dan bertanggung jawab terhadap aplikasi ilmu yang diperolehnya.

    masalah perubahan UU, kurikulum, bukan merupakan faktor utama. uu dan kurikulum tentu akan terus berubah dan berkembang sesuai perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. ini tak dapat dihindari.

    yang bisa kita lakukan adalah memberikan dukungan, bantuan dan bimbingan moril kepada anak, agar anak berkembang tidak hanya secara iq, tetapi juga eq dan sq.

    Tuhan berkati

  3. halo mikhael…
    lam kenal ya
    selamat datang di blog saya, sering-sering ya ngasih komentar, ide anda “menggigit” dan mencerahkan
    ya saya setuju, sangat setuju seribu persen. saya sedang melakukan pembinaan terhadap seorang siswa, masalah psikologisnya berat. “banyak luka” akibat dari pembelajaran di sekolah,si anak ini sama sekali tidak pernah merasakan nikmatnya belajar. SEtelah saya observasi ternyata dia hanya menginginkan metode pengajaran yang baru
    itu aja masalahnya. Dia tidak sanggup menahan beban materi di sekolah yang terlampau berat. Saya sangat prihatin. Memang kurikulum tidak berpengaruh apa2 terhadap pembelajaran. Tapi guru di sekolah mau tidak mau tunduk kepada kurikulum. Jadi ada saran untuk para guru dan orang tua?
    terima kasih ya

  4. lam kenal realylife
    met datang ya
    jangan bosan mampir

  5. Salam kenal buat mba Yella, saya salut dgn cara mba Yella menempatkan posisi guru sebagai pelayan murid yg bisa membaca apa selera muridnya. Saya juga pengen seperti mba Yella, bagi donk ilmunya. Oya kalo punya soal-soal uasbn atau uan 2008, tolong dikirim kan, ma kasiiih . . . mba Yella.

  6. salam kenal juga buat “bocah tua”…mudah-mudahan tidak terlalu tua untuk belajar terus ya…
    sering mampir ke blog saya
    ada UASBN kelas 6 SD saja, saya punya lengkap SKL dan contoh soalnya. masih dalam proses pengerjaan, mudah-mudahan cepet kelar. ini berkat bantuan MR SATYA SEMBIRING, koleksi soal-soal beliau lengkap bgt.
    saya dibesarkan di lingkungan belajar yang tidak baik. sampe pernah depresi gara-gara di SMP guru bahasa inggrisku selalu marah-marah gak karuan di kelas.
    belajar dari kondisi ini, saya coba menyembuhkan diri salah satunya dengan menjadi guru yang selalu berusaha yang terbaik .
    saya tidak pernah terlalu tua atau terlalu muda untuk belajar apa saja.

  7. good luck juga ya
    lam kenal justme182
    sering-sering mampir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s