Lebih Dekat dengan Alam

Kenangan di Semarang

1 PMpWed, 22 Oct 2008 15:56:13 +000056Rabu 2008 · & Komentar

Lembah Citayam sedang mendung ketika aku menulis postingan ini. Cuaca yang enak untuk nulis postingan di sore hari sambil ngemil tentunya :mrgreen: dan di sebelah kanan layar tersedia segelas air putih sebagai obat anti seret yang mujarab sejak njaman dulu. hehe

Jadi ingat cerita 10 hari lalu tepat aku menginjakkan kaki di semarang tawang stasiun kebanggaan kota semarang. Bagiku stasiun itu penuh kenangan. Di situlah aku bertemu dan berpisah dengan orang-orang yang kusayangi. Temen dan juga keluarga. Bagiku stasiun adalah pintu gerbang yang memisahkan kehidupanku sebelumnya dan kehidupan yang akan datang. Ada saat-saat membahagiakan ketika aku menjemput kakakku yang saat itu pertama kali aku melihatnya dia memakai jilbab. Suatu hari kakakku pulang kerja seperti biasa. Jalanan Jakarta yang macet dan hujan membuat pandangan mata sedikit ga fokus. Ceritanya kakakku menyeberang dan posisinya hampir selangkah lagisampai di halte, namun tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dan menyerempet kakakku. Ternyata mobil itu sedang membawa orang mau melahirkan ke RS. Dan kakakku pingsan seketika. Alhamdulillah ada temen sekantornya yang mengantar ke rumah sakit hingga sampai ke rumah. Alhamdulillah sejak peristiwa itu seluruh kehidupan kakakku berubah. Beliau memakai jilbab dan mendalami islam secara benar :)

Sesuatu yang membuatku trenyuh adalah ketika kedua orang tuaku menjenguk di Semarang. Saat aku mengantarnya ke stasiun, mata ibuku berkaca-kaca. Aku gak sanggup melihatnya. Aku berusaha untuk tetap senyum dan ngobrol biasa, walau dalam hati ini menangis. Ibu ga ngomong apa-apa, hanya di matanya tersirat kesedihan mendalam. Kasihan sama aku udah kuliah jauh dari rumah, apalagi saat sakit gak ada yang merawat.  Biasanya kalo sakit aku lebih suka diam di kamar .  Soalnya waktu itu aku sempat ikuti sesi terapi di rumah sakit Dr Kariadi selama 4 tahun. Dan efek terapi itu menghasilkan penyakit lain. Alhamdulillah sekarang sudah mendingan. Aku sudah bisa berdamai dengan penyakitnya. Obatnya hanyalah ikhlas dan santai menghadapi hidup. Jadi jangan kaget ya kalo berjumpa aku di dunia nyata. Tanya saja sama temen-temen yang udah ketemu. Pastinya akan terkaget-kaget :lol:

Kemaren pula aku sempat mampir ke kampus tempat aku belajar tentang hidup. Di situlah aku memulai hidupku dari nol. Jauh dari rumah, ortu, kakak-kakak dan segala kenyamanan serta fasilitas rumah. Jiwa sosialku mulai terasah secara kau nih anak rumahan yang pendiam, manis dan suka menabung. Aku sempat shock dengan budaya setempat, terutama kendala bahasa karena udah lama gak pake bahasa jawa. Pernah suatu kali aku berusaha memakai bahasa jawa, hasilnya teman2ku malah meledek, mendingan pake bahasa inonesia aja soalnya logat jawaku ga keluar, jadinya aneh, malah merusak keindahan struktur bahasa jawanya. Contoh lain “Kak, kosnya dimana?” tanyaku, “Di gang nangka” jawabnya. “ooo gang nangkak” jawabku. “Bukan Dek, bukan gang nangkak, tapi gang nangka, nag-ka, nangka gak pake -k-.” halah !!!! segitunya diperhatiin dikoreksi, hihi (Kak Ham dimana ya sekarang? putranya udah berapa? semoga saja Kak Ham nemu blogku ya, salam buat keluarga).

Kedatanganku ke Semarang kali ini ingin memenuhi rasa kangen di tempat-tempat yang penuh kenangan. Kosku yang strategis di pinggir jalan dan dekat dengan tempat makan, sempat pula aku tengok. Sekarang berubah menjadi sekretariat PMII. Padahal dulu kosku wuih amburadul, isinya gak karuan. Tapi ada satu hal yang kuingat dari persahabatan di kos. Kos itu seperti keluarga, saling bantu membantu, saling berbagi, terutama berbagi makanan, apalagi kalo ketauan abis dapet paket makanan dari rumah. Maka kamar kos si empunya jadi base camp ngobrol sampe makanan abis baru pada balik ke kamar masing-masing. Seringkali konflik pribadi menjadi menu sehari-hari tapi anehnya anak-anak gak ada yang mau pindah kos. Sekali datang ke situ akan selamanya tinggal sampai wisuda. Masing-masing anak memiliki julukan sendiri. Kalo aku dapet julukan MISS ROOM karena suka di kamar mulu hehe. Entah kenapa ada aja yang dilakuin di kamar. Entah nulis, mbaca, merubah susunan barang-barang, setrika, atau yang lainnya. Kebetulan dulu pernah gabung di Redaksi majalah kampus, kerjanya gila-gilaan sampai lupa waktu. Ingetnya waktu sholat, makan, dan mandi :mrgreen: . Belom lagi kegiatan lainnya di fakultas, lab dan Hima (Sekarang HMJ). Jika sedang tidak ada kerjaan, kamar adalah tempat favorit untuk menghabiskan waktu :)

Aku sempat juga mampir di warung makan dan rentalan tempat aku mencari sesuap nasi. Bener-bener sesuap nasi karena aku harus bikin terjemahan buku text inggris-indonesia untuk dapat makan. 2 lembar translate bisa buat makan 2 hari. Aku gak tega meminta uang kiriman dari ortu. Padahal kalaupun minta pasti akan dikirim :lol:

Tadinya mau mampir di tetangga kos dulu yang udah pindah ke kontrakan lain.Karena waktunya tidak cukup akhirnya aku pulang dengan puas. Semoga lain kali aku bisa ke sana lagi :) . ini dia poto-potonya :

kos-kosanku mirip rumah kontrakan ya, tuh yang catnya biru, depannya ada pohon mangga, berhubung pak kosnya pelit, jadi anak-anak kos sering ngasih nama mangga yang masih mentah, kalo udah mateng dipetik, hehe. Hanya di rumah inilah aku bisa ketawa lepas ngakak-ngakak sampai puas, soalnya di luar kos aku ga pernah ketawa sampe begitu, malu lah, hihi

itu dia warung tegal alias warteg tempat aku beli makan (kalo lagi males masak karena tugas laporan praktikum numpuk), tuh yang pojok, yang spanduk ijo tempat kopian, yang merah mini market, lokasi tinggal nyebrang dari kos jalan kira-kira 40 m

Suasana pagi hari depan kosan, namun ketika mendekati jm 7 pagi orang2 berjalan rapi menuju kampus masing-masing dengan sia kantuk semalam karena nglembur tugas :mrgreen:

Itu dia warung dan rental tempat aku mencari sesuap nasi, eh gak keliatan ya, abis dipojok sih

Kampus tempat aku kuliah kehidupan dan kuliah akademik, terima kasih untuk semua dosen, teman0teman seperjuangan, teknisi, laboran, teman-teman kos yang telah memberi warna dalam hidupku

Kategori: diary

15 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar