Lebih Dekat dengan Alam

Enaknya jadi Freelance

1 AMpFri, 18 Jul 2008 01:24:18 +000024Jumat 2008 · & Komentar

Emang bener, masa depan adalah apa yang kita rencanakan atau kita inginkan di masa lalu. Sejak dulu aku selalu berusaha sekolah di sekolah negeri dari SD sampe kuliah. Soalnya kasihan sama ortu. Hasil raport di sekolah sebenarnya lumayan tapi aku tidak menikmati proses di sekolah. Banyak kebutuhan diriku yang belum terpenuhi di sekolah negeri seperti mengasah minatku di bidang sosial, intrapersonal dan interpersonal. Alhasil pelajaran waktu SMP yang bisa kunikmati adalah pelajaran-pelajaran muatan lokal seperti seni rupa, elektro, fotografi, tata boga, dan kegiatan ekstrakurikuler. Satu-satunya pelajaran yang ku sukai adalah geografi. Gak bikin bosen. Mau sekolah di luar negeri (sekolah terpadu maksudnya, :D ) gak ada biaya, ya sudah akhirnya mau gak mau harus lulus.

Ada sebuah cerita yang mengubah hidupku dua tahun lalu. Waktu itu lagi iseng maen-maen ke bursa kerja. Niatnya cuman ngisi waktu luang (duh jelek banget sih niatnya), datang pun cuman liat-liat stand yang nawarin berbagai lowongan. Ternyata di tengah stand ada seminar seputar kepribadian dan pekerjaan. Seorang praktisi Maximize your potential membuka pemikiranku untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemapuan diri sendiri. Jangan memaksakan diri. Kalau kita bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan kemampuan kita hasilnya akan lebih maksimal. Bandingkan dengan bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan kemampuan, walaupun kita menyukai pekerjaan tersebut hasilnya tidak semaksimal yang diharapkan. Kemampuan kita berfungsi untuk memudahkan mengatasi hambatan dan masalah yang timbul di pekerjaan. Sebelum terlambat pindahlah ke pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan. Sebelum penyesalan datang setelah bertahun-tahun kemudian. Jika baru mau melamar, pilihlah pekerjaan yang sesuai kemampuan, jangan terlalu dipikirkan apa kata orang lain. Asalkan kita memiliki konsep arah masa depan yang jelas, pekerjaan apapun tidak masalah.

Aku jadi inget profesiku sekarang. Kalo ditanya orang seringkali aku agak sulit menjelaskan. Suatu kali aku silaturahmi ke rumah teman, terus aku ditanya kerja dimana?

wah ini yang sulit ku jawab, keknya gak mungkin juga jelasin panjang lebar ke dia. Masalahnya aku memang memilih pekerjaan yang jarang diminati orang yaitu freelancer. Kebanyakan orang mengincar posisi di perusahaan atau rame-rame jadi PNS. Pantesan lahan kerjaan makin sempit, lha yang pencari kerja lebih banyak dari penyedia kesempatan kerja. Gara-gara Sejak kuliah aku minat terhadap pekerjaan-pekerjaan yang selesai dalam periode tertentu. Selain tidak terikat, aku pun dapat belajar mengerjakan apa saja sehingga kemampuanku yang lain akan terasah. Hal yang paling ku sukai adalah adanya mobilitas di sana. Pekerjaan yang terikat membuatku bosan dan jenuh. Ujung-ujungnya menurunkan kualitas kerja. Dengan freelancer, aku dapat beristirahat sejenak dari kejenuhan rutinitas. Kalau aku jadi pekerja kantoran yang setiap hari masuk sampe lembur segala,,,walah keknya enggak deh. Memang sih agak bingung juga setiap kali selesai liburan nyari-nyari kerjaan selanjutnya. Di sinilah tantangannya, setiap saat ku harus siap dengan segala pekerjaan dan kesulitan yang tidak bisa ku prediksi sebelumnya.

Tentu ini membuat keluargaku gusar. Mereka setiap saat menginformasikan lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan. Entah itu perusahaan asing, PNS atau apapun yang intinya kerja kantoran, katanya biar lebih bergengsi. Pernah suatu kali ada koneksi di perusahaan asing. Sampe sekarang aku belom juga memasukkannya ke sana. Hobiku adalah bekerja keras selama beberapa waktu, kemudian aku memutuskan berlibur setelahnya. Hang out sambil wisata kuliner. Untuk lebih menghemat biaya biasanya aku menginap di rumah saudara atau sahabatku.

Kalau tidak ada budget jalan-jalan biasanya aku cukup piknik di rumah saja ala psychocybernetics (ciptaan Dr Maltz, akan aku bahas di postingan selanjutnya) Ini semua untuk memenuhi kebutuhanku untuk mendengarkan orang lain, menjadi pendengar masalah-masalah orang lain, memberi motivasi, berbagi pengetahuan, dan menjalin silaturahmi. Hasil sharing akan menjadi sebuah tulisan yang aku percaya menjadi alat detoks ampuh untuk menjaga kesehatan psikologis. Menulis akan membuatku kenumpahkan segala emosi jiwa yang harus disalurkan. Apabila tidak disalurkan ia akan mengendap dan sewaktu-waktu muncul menjadi penyakit baik penyakit fisik atau psikis. Emosi harusnya disalurkan, bukan dipendam.

Pernah suatu kali aku hampir goyah bahwa pekerjaan freelancer itu tak menjamin masa depan. Kalau saja aku tak rajin dengerin pendapat para pakar motivator seperti Tommy siawira, Tung Desem Waringin, Safir Senduk, Mario Teguh, mungkin aku sudah menghabiskan waktu di sebuah perusahaan selama belasan tahun dengan rutinitas yang sama setiap hari. Dengan pekerjaanku yang sekarang penghasilan bisa diatur sesuai ritme kerja, waktu lebih fleksibel, sehingga jika keluarga membutuhkan bantuan aku bisa membantu sepenuhnya :)

Apapun profesi dan bisnis kita, kesuksesan kita diukur dari seimbangnya antara pemasukan, tabungan dan pengeluaran. Setelah mengumpulkan informasi dari beberapa konsultan keuangan ternyata definisi kaya adalah seseorang yang sebagian penghasilannya digunakan untuk investasi (bisnis, saham) atau ditabung (deposito, asuransi). Seseorang dengan penghasilan besar dengan pengeluaran besar tidak dapat dikatakan kaya. Seseorang dengan penghasilan kecil namun mampu menyisihkan sebagian uangnya untuk investasi atau untuk ditabung maka seseorang tersebut dikatakan kaya.

Jadi ndak masalah kan kita mau jadi freelance atau jadi karyawan tetap, yang harus kita lakukan setelah menerima gaji adalah :

1. zakat profesi minimal 2,5% —-> jangan kuatirkan jumlah pemasukan yang kita terima, jika kita ikhlas dan kontinyu walaupun hanya sedikit, InsyaAllah Allah akan menggantinya dengan yang lebih besar, kalau butuh penyaluran zakat, ada banyak anak-anak tunas ilmu yang harus dibantu agar bisa bersekolah. Salurkan zakat setiap bulan pada orang yang tepat.

2. tabungan atau investasi atau tabungan pensiun macam asuransi

3. bayar cicilan

4. kebutuhan mendesak

5. kebutuhan keinginan

Let’s go changing

Lebih jauh tentang profesi freelance dan peluang bisnis InsyaAllah akan ada di postingan selanjutnya, tunggu tanggal mainnya

Kategori: diary

27 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar