Lebih Dekat dengan Alam

Bintang-Bintang

1 PMpMon, 09 Jun 2008 19:18:40 +000018Senin 2008 · 47 Komentar

Malam ini aku hanya ingin diam, memandang bintang, melepas segala penat. Aku begitu merasa takjub melihat bintang-bintang itu. Angkasa terasa luas, tidak seluas hatiku beberapa detik lalu. Beberapa minggu ini aku disibukkah oleh urusan dunia yang tak pernah ada habisnya. Aku terdesak, terjebak, dan terperangkap oleh niat baikku menolong seseorang. Nyatanya niat tak semulus harapan. Sampai beberapa detik lalu rasa sesak itu memuncak, menyesakkan dada. Sakit. Hampir saja merobohkan pertahananku.

Rasa sesak itu berangsur menghilang ketika ku menatap bintang-binatng di atas sana. Bintang yang diam. Justru dengan diamnya menghadirkan ketenangan dan kenyamanan. Ah, andai aku bisa seperti bintang. Hei, bukankah kita semua adalah bintang?

kita memiliki kemauan dan bakat berbeda untuk menjadi bintang di bidang masing-masing, mengamalkan ilmu dalam kehidupan, bermanfaat buat orang lain seperti janji wisudawan/wisudawati. Janji itu atas nama Allah. Rupanya para sarjana sudah diikat perjanjian dengan Allah. Dalam kenyataannya aku sendiri sering lupa oleh janji itu.

Yang kupikirkan hanya uang. Aku ingin sekali bekerja dengan niat karena Allah. Bukan karena memperoleh banyak uang. Uang yang banyak pun jika tidak berkah buat apa. Tapi aku perlu uang. Segalanya butuh uang, tapi uang bukan segalanya. Salah seorang temanku takut punya banyak uang karena takut dosa. Seandainya dia mau mengerti bahwa uang yang banyak bila dizakatkan 2,5% saja,,maka InsyaAllah dia tidak perlu merasa takut.

Walau bagaimana pun keyakinan memang tidak bisa dipaksakan sekalipun dari satu dien. Aku berharap semoga Allah meniupkan keyakinan dalam hatinya dan membuatnya bisa berubah. Dan merasakan bahwa hidup ini harus berbagi. Allahu ‘Alam bishawab

note : Catatan harian seorang yang terpinggirkan

Kategori: islam

47 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar