Tulisan ini saya masukkan dalam kategori dapur ilmuwan. Ide ini muncul dari ketertarikan saya di dunia kuliner dan dapur dengan pengetahuan yang saya dapat sewaktu kuliah di jurusan kimia FMIPA. Ini merupakan seri pertama dapur ilmuwan. Saya merasa bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan ilmuwan-ilmuwan kimia terdahulu atas apa yang mereka temukan melalui bahan-bahan kimia sintetis. Banyak masalah kesehatan yang timbul karenanya, misalnya penemuan MSG dan pengawet bahan makanan. Saya sadar sepenuhnya untuk tidak mengkritik tanpa solusi. Saya juga harus belajar menemukan solusi dengan tingkat resiko kecil dengan mengkampanyekan penggunaan bahan-bahan alami yang tidak kalah berkhasiat. Let’s back to nature…sayangi diri kita, sayangi keluarga, sayangi bangsa kita agar tercipta generasi yang cerdas, sehat dan bermoral. Selamat membaca, semoga mendapat manfaat.
Membuat masakan enak memang tidak mudah, tapi bisa dipelajari. Seringkali kita menggunakan bahan perasa sintetis seperti monosodium glutamate (MSG) untuk melezatkan makanan. Hal ini tentu membawa dampak tidak baik terhadap kesehatan hati dan empedu. Pada anak-anak, penggunaan MSG mengganggu perkembangan otak dan konsentrasi belajar. Pada orang dewasa konsumsi MSG dalam dosis tertentu akan menumpuk di organ hati. Hal ini sering terjadi pada orang tua seiring menurunnya kemampuan organ karena usia. Mulanya gangguan tersebut tidak dirasa, bertambahnya usia kerja ogan menjadi tidak sempurna sehingga mulai terjadi penumpukan dan timbullah suatu penyakit. Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua orang yang mampir ke blog saya untuk menghentikan penggunaan MSG termasuk kaldu instant dan sejenisnya. Saya ingin tunjukkan sebuah proses memasak ditinjau dari sisi kimia yang tak kalah lezatnya dengan penggunaan MSG. Membuat masakan lezat tidak harus menggunakan banyak bumbu dan rempah, yang penting proses memasaknya benar. Dengan mengetahui rahasia yang terkandung dalam rempah dan bumbu, kita dapat membuat masakan lezat dengan bahan-bahan sederhana.
Rempah-rempah mempunyai senyawa kimia tertentu yang disebut sebagai minyak atsiri.
Minyak atsiri adalah minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang, mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Senyawa ini berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain dalam mempertahankan ruang hidup.
Senyawa minyak atsiri terdapat dalam rempah-rempah yang biasa digunakan memasak. Bawang putih mengeluarkan minyak atsiri yang berbau langu dan tidak enak. Bawang merah mengeluarkan minyak atsiri jenis lain yang dapat mengganggu kelenjar air mata, maka tak heran jika kita sedang mengiris bawang merah seringkali mengeluarkan air mata. Minyak atsiri lain terdapat dalam serai, cendana, mawar, melati, kenanga (ilang-ilang), dll. Minyak tersebut diperoleh dengan merebus bahan dengan air kemudian uap ainya didinginkan dan ditampung sebagai minyak atsiri murni.
Sifat minyak atsiri :
1. Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah
2. Susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama di hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya kuat)
3. Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat menghasilkan rasa yang berbeda
4. Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas suatu aroma tertentu
5. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil.
Seringkali saya mengamati tukang nasi goreng langganan saya memasak. Saya heran kok nasi gorengnya enak padahal saya memesan tanpa MSG (vetsin). Setelah saya perhatikan, ternyata bawang putihnya digeprek atau dipipihkan dahulu.
Mengapa ?
Dalam bawang putih terkandung senyawa kimia minyak atsiri, aliin, kalium, saltivine, diallysulfide. Fungsi dari bawang putih yang dipipihkan adalah untuk mengeluarkan minyak atsirinya, rasanya akan berbeda jika bawang putinhya diiris. Kalau diiris minyak atsiri yang mudah menguap akan menempel pada pisau.
Bawang putih yang telah dipipihkan, digoreng dalam minyak sedikit panas. Minyak atsiri akan larut dalam minyak, sehingga terbentuk minyak bawang putih yang harum. Saat menggoreng bawang putih, kecilkan api dan sambil dikorek agar bawang putih tidak gosong. Jika kosong masakan akan terasa pahit. Sebaiknya tidak menyimpan minyak bawang dalam waktu tertentu karena minyak ini mudah mengalami proses oksidasi (tengik). Segera gunakan setelah minyak ini dibuat.
Penambahan garam sebaiknya dilakukan saat makanan sudah matang dan kompor dalam keadaan mati. Garam yang dibubuhkan pada awal atau saat proses memasak akan menguraikan iodium. Iodium mudah terurai dalam panas.
Penambahan sedikit gula akan menyeimbangkan rasa asin dari garam. Perpaduan rasa ini membentuk rasa baru yang sama seperti MSG. Dengan takaran yang tepat kelezatan masakan akan tercipta. Tentu takaran garam dan gula akan berbeda untuk setiap masakan dan jumlah porsi yang dibuat. Cara memasak ini lazim digunakan dalam masakan cina, gak heran kan masakan cina banyak yang enak. Sebetulnya tanpa ditambah arak atau ang ciu masakan sudah enak. Sekarang tidak ada alasan kan kalau memasak enak itu sulit?
Selamat mencoba..
Sampai jumpa di seri dapur ilmuwan berikutnya…
(sumber inspirasi : wikepedia, PDII-LIPI, Asian Food Channel Indovision)






19 tanggapan so far ↓
hanggadamai // 1 PMpThu, 24 Apr 2008 22:34:16 +000034Kamis 2008 pada 13:45 |
mbak kopdarnya.. liat blogku aja ya..
Kopdar..kopdar.. BLOGGOR (Blogger bogor)
Rafki RS // 1 PMpThu, 24 Apr 2008 23:52:37 +000052Kamis 2008 pada 13:45 |
Makan lagi nih ya. Jadi lapar lagi. Memangnya masakan cina itu enak ya mbak. Tapi saya tetap suka masakan padang.
Febra // 1 AMpFri, 25 Apr 2008 00:45:31 +000045Jumat 2008 pada 13:45 |
waduuhh..bner bener berbakat
dah siap nih, heheeh
Febra // 1 AMpFri, 25 Apr 2008 00:49:35 +000049Jumat 2008 pada 13:45 |
dah siap nih jadi ibu hehehe
Farijs van Java // 1 AMpFri, 25 Apr 2008 09:51:12 +000051Jumat 2008 pada 13:45 |
selamat mencoba? yah, mbak. gimana faris mo nyoba? nyoba nyicipin aja, deh.
(^_^)v
kirimin nasi gorengnya, dong. hehe….
realylife // 1 PMpFri, 25 Apr 2008 15:45:24 +000045Jumat 2008 pada 13:45 |
setuju banget ukhti
ibu saya juga masak paling anti pake msg , katanya yang alami lebih enak
dan terbukti memang enak
nyokkk budayakan hidup sehat
nyokkk
LPLPX.COM » Blog Archive » From MSG to 100000 [Blogwalking] // 1 PMpFri, 25 Apr 2008 15:51:07 +000051Jumat 2008 pada 13:45 |
[...] Meal without MSG [...]
yellashakti // 1 PMpFri, 25 Apr 2008 17:27:04 +000027Jumat 2008 pada 13:45 |
# hanggadamai : wah promosi posting ya? hehe,,ok deh tar ak mampir
# Pak RAfki : iya pak, saya hobi bgt makan n nyoba resep baru
# febra : dah siap makan,,hehe…iya InsyaAllah dah siap, tinggal nunggu bapaknya,,,he,,, canda mas febra,,,saya cuma bagi2 ilmu aja,,itu yang terpenting
# faris : berhubung biaya kirimnya mahal, mending kesini aja deh, nanti sekalian kopdar ma hangga,,mau?
#realylife : ayo berbagi sehat….(kaya lifeboy,,,he…)
tehaha // 1 PMpFri, 25 Apr 2008 21:24:37 +000024Jumat 2008 pada 13:45 |
katanya anak-anak bisa menurun kemampuan intelegensi-nya kalo kebanyakan memakan makanan yang pake MSG..
tapi, memang kerasa sekali kalo makanan tanpa MSG itu jauh lebih sehat..
dah mantap nih buat seorang calon ibu yang baik
yellashakti // 1 PMpFri, 25 Apr 2008 21:48:22 +000048Jumat 2008 pada 13:45 |
# tehaha : mantap juga buat calon bapak yang baik,,,soalnya perlu kerjasama antara bapak dan ibu supaya anak sehat,, kalo cuma ibunya aja sih ga cukup, terus berkarya
achoey sang khilaf // 1 PMpFri, 25 Apr 2008 21:54:20 +000054Jumat 2008 pada 13:45 |
aku jg kalo masak sendiri suka dikurangi MSG nya
yellashakti // 1 PMpFri, 25 Apr 2008 22:07:57 +000007Jumat 2008 pada 13:45 |
# achoey : wah calon suami yg baik nih, bisa bantu masak istri,,,
Rizki on benbego // 1 PMpFri, 25 Apr 2008 22:30:38 +000030Jumat 2008 pada 13:45 |
jadi begitu ya. kayaknya ada bakat nih buat msg jenis baru
kimia terus sih.
kabuur ah..
yellashakti // 1 PMpFri, 25 Apr 2008 22:33:32 +000033Jumat 2008 pada 13:45 |
# Rizki : hahaha,,kok kabur sih? ok deh, btw makasih dah mampir,,,dah koment,,,balik lai ya? bisa liat kok puisi ato cerpen
ayaelectro // 1 PMpSat, 26 Apr 2008 19:52:48 +000052Sabtu 2008 pada 13:45 |
wah skarng ini emang susah banget buat nyari makanan tanpa msg. postingan yang berguna.
Farijs van Java // 1 PMpMon, 28 Apr 2008 13:40:37 +000040Senin 2008 pada 13:45 |
emang dimana, mbak? boleh dong kalo ada banyak makanannya. hehe….
(^_^)v
makan mulu ya? pantesss
Indonesia masih ada « Bersama Berbagi Rasa // 1 PMpSun, 15 Jun 2008 22:16:08 +000016Minggu 2008 pada 13:45 |
[...] kita. Mereka sama seperti kita, harus dijaga dan disayangi. Anak-anak juga dilarang mengkonsumsi MSG dan fast food agar otak tidak rusak dan bisa digunakan berfikir maksimal, agar kita tidak dibodohi [...]
yessymuchtar // 1 AMpThu, 04 Sep 2008 10:28:29 +000028Kamis 2008 pada 13:45 |
huehuehue kalo yessy masak juga gakp ake msg..cukup di kasih gula dan garam pengantinya
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
wah ibu teladan neh, salut mbak, hebat euy,,
about me « MENYAPA ALAM RAYA // 1 PMpMon, 29 Sep 2008 16:46:27 +000046Senin 2008 pada 13:45 |
[...] entah gimana cerita awalnya kenapa aku ndak suka kecap, pokoke ga suka aja. Semua jenis makanan yang pake kecap rasanya kurang enak di lidah, rasa asli masakannya gak keliatan alias ke tutup kecap. Bakso, mi ayam, nasgor lebih sering dimakan tanpa kecap. Untuk saos, ya gara2 praktikum analisis saos untuk uji boraks dan pewarna tekstil terus dapet cerita dari temen yang punya pabrik tepung kanji yang limbahnya dipakai bahan baku saos, jadi tambah ogah makan saos. Mending bikin saos sendiri deh , terus gara2 pusing 16 keliling abis maem bakso ber-MSG, sejak saat itu aku ga suka yang namanya MSG dan sebagainya termasuk MSG yang katanya mengandung kaldu sapi asli. Paling sebel kalo liat produsen mengiklankan produknya mengandung ini itu asli/natural padahal dari sintetis semua , padahal kan membuat ekstarak kaldu dari bahan alami ga mudah, kalaupun ada ga mungkin dijula di warung dengan harga 500 perak, ga masuk akal. Jadi ya aku memutuskan untuk memasak tanpa MSG [...]